Halo,
warga negara Indonesia yang dompetnya sudah terasa ringan sejak tanggal 25! Apa
kabar? Semoga masih ada sisa recehan untuk beli kopi sambil membaca artikel
recehan ini.
Kali
ini, kita akan membahas sebuah penemuan yang begitu menggemparkan, begitu
dalam, dan begitu… jleb-nya di hati. Sebuah kebenaran universal yang disepakati
oleh para pakar ekonomi dengan jas mahal dan kacamata tebal, setelah melakukan
penelitian berbulan-bulan, menganalisis data, dan menghitung rumus-rumus yang
bikin pusing.
Kesimpulannya? Uang habis karena terlalu banyak
dibelanjakan.
Bukan.
Karena dicopet.
Bukan karena inflasi yang terlalu kejam.
Bukan karena harga telor naik.
Bukan karena tiba-tiba dimakan rayap di dompet.
Tapi
karena, ya, kita sendiri yang mengeluarkannya, dengan sukarela, seringkali
dengan senyum bahagia, untuk ditukar dengan barang-barang yang kadang-kadang…
ya, sudahlah.
Mari kita telusuri bersama fenomena memalukan sekaligus menggelikan ini.
Bab 1:
Mekanisme Dasar Menghabisan Uang
Sebenarnya,
prosesnya sangat sederhana. Begini alurnya:
1.
Ada Uang di
Dompet/ATM/Aplikasi Dompet Digital: Fase ini adalah puncak kebahagiaan.
Kita merasa seperti raja, merasa bisa membeli apapun. "Wah, gajian nih.
Ini uang harus dikelola dengan bijak," ucap kita dengan penuh tekad.
2.
Muncul Keinginan (Need
vs. Want): Di sinilah masalah dimulai. Otak kita memiliki kemampuan
luar biasa untuk mengubah "ingin" menjadi "butuh".
o Need (Kebutuhan): Beras, listrik, air, biaya kos.
o Want (Keinginan): "Aduh, kopi kekinian edisi kolaborasi itu limited banget nih, kalo
nggak beli sekarang, nyesel seumur hidup!" -> Otak memproses: INI KEBUTUHAN PRIMER.
3.
Justifikasi dan
Pembenaran (The Art of Ngelunjak): Ini adalah fase di mana kita menjadi
filsuf ahli yang bisa membenarkan segala pembelian.
o "Ah,
beli aja. Kan lagi ada diskon 20%. Kalo nggak beli sekarang, rugi 20%
loh!" (Padahal, dengan tidak membeli, kita menghemat 80%).
o "Hidup
cuma sekali! YOLO!"
(Ini adalah mantra paling ampuh untuk menghabisan gaji).
o "Buat
investasi jiwa. Biar semangat kerja." (Biasanya dipakai untuk beli action
figure atau tas baru).
4.
Transaksi: Tap. Beep. Gesek. Uang pun berpindah
tangan. Rasanya… lega dan bahagia. Sejenak.
5.
Penyesalan dan Penemuan
Fakta: Fase ini biasanya datang di akhir bulan, ketika kita
membuka laporan keuangan dan berkata, "UANG GUE HABIS DIMANA SIH?!"
sambil melihat tumpukan barang yang separuhnya masih terbungkus plastik.
Proses
ini adalah sebuah siklus yang lebih bisa diprediksi daripada musim hujan. Lebih
pasti daripada janji politisi.
Bab 2:
Jenis-Jenis Pengeluaran yang Bikin Geleng-Geleng
Mari
kita klasifikasikan musuh-musuh kita ini.
1. The Silent Killer (Pengeluaran Kecil yang Tak Terasa)
Ini adalah pasukan khusus yang bekerja dalam senyap. Mereka jumlahnya kecil,
tapi frekuensinya tinggi. Setiap hari, mereka menggerogoti saldo kita
pelan-pelan.
·
Kopi kekinian: Rp 25.000.
·
Gorengan tambah es teh: Rp 15.000.
·
Bayar parkir: Rp 5.000.
·
Donasi untuk kucing yang lagi ngemis
(padahal kita sendiri mau nangis): Rp 10.000.
Dalam
sebulan? Rp 55.000 x 30 hari = Rp
1.650.000. Itu sudah bisa untuk bayar listrik 3 bulan,
atau beli happo yang baru. Tapi uangnya sudah raib, ditukar dengan… angin.
2. The Impulse Buyer (Pembelian Dadakan karena Iklan)
Kita yang tadinya hanya ingin berselancar santai di media sosial, tiba-tiba
melihat iklan.
"Ih, kaos ini lucu banget! Ada tulisan 'I'm an Introvert' dengan gambar
kucing ngumpet. That's so me!"
Tanpa pikir panjang, langsung klik, beli, bayar. Dua hari kemudian, paket
datang. Kita pakai sekali, lalu sadar: "Gue kan jarang keluar rumah.
Ngapain gue beli kaos ginian?"
3. The FOMO Spender (Pembelian karena Takut Ketinggalan)
Fear Of Missing Out adalah
penyakit zaman now yang sangat efektif untuk mengosongkan dompet.
·
"Tiket konser itu laris banget!
Padahal gue nggak terlalu kenal penyanyinya, tapi kata orang sih bagus. Yuk
beli!"
·
"Eh, resto itu lagi viral nih!
Antriannya sampe 2 jam. Kita harus cobain, biar nggak kudet!"
Hasilnya: dompet kosong, perut kenyang, telinga berdenging, dan feed Instagram
update.
4. The "Demi Gengsi" Expenditure (Pengeluaran Biar
Dibilang Hebat)
Ini tingkatannya sudah lebih tinggi. Motivasinya bukan lagi kebutuhan atau
kesenangan, tapi pengakuan sosial.
·
Beli smartphone flagship terbaru, padahal
yang lama masih mulus dan cuma dipakai buat telpon, WA, dan Instagram.
·
Nongkrip di cafe mahal cuma buat foto
espresso doang, sambil dalam hati nangis karena harganya setara dengan
semangkok bakso komplit.
·
Paksa beli sepatu merek ternama, padahal
ukurannya sempit dan jalannya jadi kayak bebek, yang penting logonya kelihatan.
Bab 3:
Proses Pembenaran yang Kreatif Abis
Ini
adalah bagian terhebat dari otak manusia: kemampuannya untuk membenarkan hal
yang tidak masuk akal.
·
Pembenaran Diskon: "Ini kan
diskon 70%! Bayangin aja, kita hemat 70%! Nggak beli berarti rugi!"
(Pertanyaannya: hemat 70% dari apa? Dari harga yang mungkin sengaja dinaikkan
dulu? Dan uang yang keluar tetaplah 30%-nya, itu uang beneran, loh!).
·
Pembenaran Terapi: "Gue lagi
stres nih, butuh retail
therapy. Biar semangat lagi." Akhirnya, stres karena kerjaan
hilang, digantikan oleh stres karena tagihan.
·
Pembenaran Masa Depan: "Beli buku
self-development ini penting buat investasi ilmu. Nanti ilmunya bisa bikin gue
kaya." Buku itu pun ditumpuk di lemari, sampulnya belum dibuka, bersanding
dengan buku-buku "investasi ilmu" lainnya yang sudah berdebu.
·
Pembenaran Kesehatan: "Beli jus
detox yang segini mahal itu perlu, demi kesehatan. Daripada nanti sakit,
bayarnya lebih mahal." (Sambil ngunyah martabak keju coklat sebagai
pendamping jus).
Bab 4:
Solusi-Solusi yang (Mungkin) Tidak Akan Pernah Kita Lakukan
Para
pakar juga memberikan solusi. Solusi yang logis, sederhana, dan… hampir selalu
kita abaikan.
1.
Buat Anggaran
(Budgeting): Kita semua tahu ini. Tapi membuat budget itu seperti
membuat janji pada diri sendiri yang siap untuk diingkari. "Ini untuk
tabungan, ini untuk kebutuhan, ini untuk hiburan." Kenyataannya? Kolom
"hiburan" seringkali melakukan ekspansi ke wilayah
"tabungan" seperti negara yang lagi perang.
2.
Tunda Pembelian (Delay
Gratification): "Kalau mau beli sesuatu, tunggu 24 jam. Kalau besok
masih pengen, baru beli." Ini teori yang bagus. Tapi dalam praktiknya,
diskonnya biasanya cuma 24 jam! Jadi, ya terpaksa beli sekarang, dong!
3.
Bawa Bekal dan Masak
Sendiri: Ini adalah nasihat klasik. Tapi lihat realitanya: siapa
yang sempat masak setelah pulang kerja capek-capek? Lebih mudah tap di
aplikasi, dan dalam 30 menit, makanan sampai di depan pintu. Harganya? Ya tentu
saja lebih mahal daripada masak sendiri.
4.
Catat Semua
Pengeluaran: Awal bulan semangat catat. Sampai tanggal 10, mulai males.
Tanggal 15, aplikasi pencatatan keuangannya sendiri sudah kita
"hilangkan" dari layar hp utama.
Kesimpulan:
Mari Tertawa Menghadapi Kenyataan Pahit
Jadi,
sobat Cercu, apa hikmah yang bisa kita petik dari kesepakatan para pakar
ekonomi yang (jujur saja) sudah jelas-jelas itu?
Bahwa
kita adalah makhluk yang irasional, mudah tergoda, dan punya bakat alami untuk
mengubah uang menjadi barang yang tidak terlalu kita butuhkan.
Tapi,
di balik itu semua, ada sisi manusiawi yang lucu. Kita mencari kebahagiaan
dalam bentuk barang, dalam pengalaman, dalam secangkir kopi yang fotogenik. Dan
meskipun uangnya habis, seringkali kenangan dan pelajaran yang kita dapatkan…
well, cukup berharga juga untuk dijadikan cerita.
Jadi,
lain kali Anda melihat dompet yang menipis, jangan bersedih hati. Ingatlah
kata-kata para pakar itu: uang
habis karena terlalu banyak dibelanjakan.
Terimalah
kenyataan itu dengan senyum. Pasrah. Dan mungkin, rencanakan untuk lebih
"bijak" bulan depan—sebuah rencana yang kemungkinan besar akan
berakhir dengan artikel yang sama, tapi dengan tanggal yang berbeda.
Yang
penting, jangan sampai karena terlalu hemat, kita jadi tidak hidup. Nikmati
saja prosesnya, sambil sesekali menabung. Karena uang memang diciptakan untuk
dibelanjakan, tapi sebisa mungkin, jangan sampai yang habis adalah kebahagiaan
dan masa depan kita sendiri.
Selamat
berbelanja dengan (sedikit lebih) sadar! Dan selamat menanti gajian berikutnya!
.jpg)
Comments
Post a Comment