Oke, saudara-saudara, para pencari
cerita lucu yang budiman. Duduklah yang manis, tarik napas dalam-dalam, dan
persiapkan diri kalian untuk sebuah pencerahan. Sebuah fakta yang akan mengubah
cara kalian memandang dunia, kota, dan terutama kemacetan di perempatan jalan.
Saya, setelah melakukan penelitian
intensif selama berjam-jam (sambil menunggu pesanan makanan online datang),
telah sampai pada sebuah kesimpulan yang begitu dahsyat, begitu mendasar,
sehingga para ilmuwan di CERN saja mungkin akan menangis tersedu-sedu.
Fakta itu adalah: Lampu merah menyala
merah karena… warnanya memang merah.
Tunggu. Jangan langsung tutup tab ini. Saya tahu kedengarannya seperti omongan orang yang kehabisan ide. Tapi percayalah, di balik pernyataan yang tampak absurd ini, tersembunyi sebuah kebenaran universal yang sering kita lupakan, terutama ketika kita sedang terburu-buru dan moceng kita sudah ngebul di belakang mobil yang tak kunjung bergerak.

Fakta Akhir: Penyebab Lampu Merah adalah karena Warnanya Memang Merah
Mari kita kulik ini pelan-pelan.
Bab 1: Saat Kita
Menjadi Filsuf Dadakan di Perempatan Jalan
Bayangkan ini:
Kita lagi di mobil. Spotify lagi memainkan lagu yang tepat. AC berhembus
sempurna. Pikiran kita sedang ada di alam khayalan tentang betapa produktifnya
hari ini. Lalu tiba-tiba… BAM! Lampu merah.
Apa reaksi pertama kita?
Bukan menerima dengan ikhlas. Oh, tidak.
Kita mulai menyalahkan segala hal.
"Ah, sial! Lampu ini rusak kali, ya? Merahnya lama banget!"
"Pasti yang bikin lampu ini orangnya gabut, dikasih timing semaunya."
"Atau jangan-jangan ini konspirasi biar kita boros bensin?"
Kita memutar kepala, melihat ke arah
lampu dengan pandangan penuh kebencian, seolah-olah bola lampu kristal berwarna
rubi itu adalah musuh bebuyutan kita. Kita mengutuknya. Kita berharap ada
tombol "skip" seperti di YouTube.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan
bertanya, dengan jujur, "Hey, lampu, kenapa sih kamu merah?"
Dan seandainya lampu itu bisa menjawab,
dengan suara berat penuh wibawa seperti Pak Dosman di sinetron, ia akan
berkata, "Ya karena gue emang merah, Bang. Dasar lu aja yang nggak
bisa terima kenyataan."
Dan di situlah segalanya menjadi jelas.
Masalahnya bukan pada lampunya. Masalahnya adalah pada ekspektasi kita yang
melangit terhadap sebuah benda yang tugasnya cuma satu: menjadi merah.
Bab 2: Anatomi Sebuah
Lampu Lalu Lintas: Bukan Hanya Soal Warna
Mari kita berandai-andai. Bayangkan jika
lampu lalu lintas itu punya perasaan. Hidupnya monoton banget. Cycle-nya cuma
tiga: Merah -> Kuning -> Hijau -> Merah. Dia nggak bisa request cuti,
nggak bisa tiba-tiba nyala biru karena lagi pengen nuansa laut, apalagi nyala
pink karena lagi jatuh cinta.
Dia di-program untuk menjadi konsisten.
Merah artinya STOP. Titik. Bukan "stop sambil ngelamun", bukan
"stop tapi kalau lagi buru-buru gas aja", apalagi "stop sambil
nge-horn kayak orang kesurupan".
Warna merah dipilih bukan tanpa
alasa—eh, alasan. Secara ilmiah (saya sok tau sedikit nih), panjang gelombang
warna merah itu paling panjang. Artinya, dia bisa menembus kabut, hujan, dan
pandangan mata yang sudah berkunang-kunang karena lapar dengan lebih efektif.
Dia teriak, "AWAS GUE ADA DI SINI, DAN LU HARUS BERHENTI!"
Jadi, ketika kita marah-marah karena
lampu merah, sebenarnya kita sedang marah pada hukum fisika. Kita sedang
melawan sains dasar. Itu sama konyolnya dengan marah pada gravitasi karena gelas
kita jatuh. "Ah, sialan gravitasi! Kenapa lu narik gelas gua?!" Ya
namanya juga gravitasi, tugasnya ya narik.
Bab 3: Kisah-Kisah
Heroik di Bawah Sinar Sang Lampu Merah
Lampu merah bukanlah musuh. Dia adalah
panggung kecil di mana drama kemanusiaan sehari-hari dipentaskan.
·
Si Pemberani (atau Sok Pemberani): Ini dia yang pas
lampu baru aja nyala 3 detik merah, dia sudah mulai ngerem sambil komat-kamit,
"Aduh lama banget sih, jadi pengen langsung seruduk aja." Matanya
awas, kaki sudah siap di kopling dan gas, siap menjadi pembalap F1 dadakan
begitu kuning berkedip.
·
Si Tukang Horn: Karakter yang
satu ini sepertinya percaya bahwa klaksonnya memiliki kekuatan magis. Dia pikir
dengan menekan horn berkali-kali, energi suaranya akan merambat ke lampu dan
memaksanya untuk cepat-cepat ganti hijau. "Tit tit tit... TIT TIT! BREEEM!"
Hasilnya? Lampu tetap merah, dan tingkat stres semua orang di sekelilingnya
naik 100%.
·
Si Pembuat Konten: Di era
smartphone ini, lampu merah adalah waktu yang pas untuk cek Instagram, balas
chat, atau bahkan ngeless selfie. "Eh, lampu merah nih,
perfect time for a quick duck face." Tanpa disadari, lampu sudah hijau,
dan orang di belakangnya sudah menjadi bagian dari "Si Tukang Horn".
·
Si Penerima Takdir: Ini saya,
biasanya. Pas lampu merah, saya menghela napas, menyerahkan diri pada takdir,
dan kadang sambil menyanyikan lagu Sheila On 7 di dalam hati. "Lampu
merah... hati siapa yang tak sedih..." Lampu merah adalah waktu untuk
merenung, untuk introspeksi, "Apa arti hidup? Kenapa tadi saya beli kopi
yang terlalu manis?"
Lihat? Lampu merah adalah guru kesabaran
yang paling demokratis. Dia memperlakukan semua orang sama: pengendara motor
butut, mobil mewah, sampai truk gandengan. Di hadapan sang lampu merah, kita
semua setara.
Bab 4: Eksperimen
Gila: Bagaimana Jika Lampu Lalu Lintas Warnanya Lain?
Coba kita bayangkan jika para penemu
lampu lalu lintas dulu lagi bad mood dan memilih warna lain.
Scenario 1: Lampu Lalu Lintas Warna
Pastel.
Hijau Mint, Kuning Lemon, dan Merah Muda.
Apa yang terjadi?
Sopir bus akan berhenti sambil berkata, "Wah, lampunya lucu banget ya,
pink. Kayaknya nggak tega nih nerobos." Lalu lintas akan teratur, penuh
dengan senyum dan rasa haru. Tapi kemungkinan besar, semua orang akan terlalu
sibuk mendiskusikan nuansa warna sehingga lupa untuk jalan.
Scenario 2: Lampu Lalu Lintas Warna
Hitam-Putih.
Hitam artinya jalan, Putih artinya stop, Abu-abu artinya hati-hati.
Hasilnya? Kekacauan total. Kita akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk
berdebat, "Itu abu-abu muda atau abu-abu tua? Kalau abu-abu tua harusnya
lebih dekat ke stop atau jalan?" Polisi lalu lintas akan kewalahan
menjelaskan teori nilai gradasi warna.
Jadi, lihat? Pilihan warna
Merah-Kuning-Hijau itu jenius. Kontras, jelas, dan nggak multitafsir. Seperti
pesan dari mantan yang to the point, "Kita putus." Nggak pake puitis,
nggak pake tanda baca yang membingungkan.
Kesimpulan Akhir yang
Sangat Mendalam (Sok-Sokan)
Jadi, setelah kita telusuri bersama,
marilah kita kembali ke "Fakta Akhir" kita.
Penyebab lampu merah adalah karena
warnanya memang merah.
Frasa ini bukan sekadar lelucon kering.
Ini adalah metafora kehidupan. Ini mengajarkan kita untuk menerima hal-hal yang
tidak bisa kita ubah. Kita tidak bisa memerintah lampu lalu lintas. Kita tidak
bisa nego, "Bang, abang merahnya 10 detik aja ya, gue buru-buru."
Tidak bisa.
Yang bisa kita ubah adalah respons kita.
Alih-alih mengutuk, mungkin kita bisa memanfaatkan waktu 60 detik itu untuk
hal-hal produktif. Seperti:
·
Menarik napas dalam-dalam (yang
gratis!).
·
Mendengarkan satu lagu favorit sampai
chorus-nya.
·
Melihat sekeliling dan mengamati betapa
uniknya orang-orang di jalanan.
·
Atau, ya, sekedar menerima bahwa di
dunia yang serba cepat dan penuh tekanan ini, ada sebuah benda kecil yang
memaksa kita untuk berhenti. Berhenti sejenak. Bernapas. Dan bersabar.
Lampu merah itu seperti tombol
"pause" dalam permainan kehidupan kita yang serba cepat. Dan tombol
"pause" itu berwarna merah.
Jadi lain kali ketika kamu terjebak di
perempatan, dikelilingi oleh klakson dan emosi, ingatlah artikel receh ini.
Lihatlah sang lampu, tersenyumlah dalam hati, dan katakan, "Iya, aku tahu.
Kamu merah karena emang merah. Aku terima. Aku akan menunggu."
Karena pada akhirnya, melawan lampu
merah sama saja dengan melawan takdir. Dan takdir, seperti warna merah pada
lampu, adalah sesuatu yang harus kita jalani, bukan kita perdebatkan.
Sekian tulisan mendalam nan filosofis
dari saya. Semoga setelah ini perjalanan kalian lebih sabar dan penuh tawa.
Kalau pun tidak, ya setidaknya kalian sudah menghabiskan waktu 5 menit untuk
membaca artikel ini daripada marah-marah di jalan.
Selamat jalan! Dan hati-hati, jangan
sampai lampu merahnya beneran ditabrak karena saking terinspirasinya!
Comments
Post a Comment