Skip to main content

🪙 CERCU – Isi Ulang Pulsa Demi Cinta: Rp 5.000 Demi Kirim “Jaga Diri Baik-Baik Ya”

CERCU

Zaman sekarang, mau kirim pesan? Tinggal buka WhatsApp, TikTok, DM Instagram, bahkan tinggal rekam suara sambil rebahan. Gratis. Cepat. Bebas.

Tapi dulu? Di era kejayaan HP Nokia dan SMS, cinta itu perlu modal.

Modal nekat, modal perasaan, dan... modal pulsa Rp 5.000.

Buat remaja zaman 2000-an awal, pulsa Rp 5.000 bukan sekadar angka. Itu adalah harga dari sepotong perhatian. Bahkan kadang jadi bukti cinta yang paling tulus, karena dikumpulkan dari hasil nabung uang jajan, ngemis ke mama, atau nyari receh dari saku seragam.

Semua itu… hanya demi satu pesan sakral:

“Jaga diri baik-baik ya.”

Kalimat sederhana. Tapi butuh perjuangan luar biasa untuk bisa mengirimkannya.

 

💸 Pulsa Rp 5.000 = Cinta 160 Karakter

SMS dulu harganya sekitar Rp 350–Rp 500 per kirim.
Jadi kalau kamu punya pulsa Rp 5.000, kamu cuma bisa kirim sekitar 10–14 SMS.
Itu pun kalau gak typo dan harus ngulang.

Karena itu, anak-anak muda zaman itu jadi kreatif:

·         Memadatkan kalimat penuh makna dalam satu SMS.

·         Mengurangi tanda baca (karena boros karakter).

·         Menggunakan singkatan absurd: “aq gk prgi krna kmu…”

Bukan karena males nulis lengkap. Tapi karena cinta butuh efisiensi.

 

🧃 Cerita Nyata: Nabung Demi SMS Malam Minggu

Faris, anak kelas 2 SMP, pernah cerita:

“Dulu gue suka banget sama cewek sekelas. Tiap malam minggu pasti kirim SMS, tapi harus ngisi pulsa dulu di warung Bu Ani. Biasanya gue kumpulin receh dari sisa uang gorengan.”

Kadang cuma buat kirim:

“Lagi ngapain? Kangen nih…”

Dan kalau dibales cuma:

“Aku juga…”

Rasanya seperti dapet bonus pulsa dari Tuhan.
Itu bukan sekadar balasan. Itu validasi rasa sayang setelah perjuangan Rp 5.000.

 

🧨 Tragedi Klasik: Udah Beli Pulsa, Eh Dia Jadian Sama Temen Sendiri

Tapi tak semua kisah berjalan manis.
Karena cinta di era SMS juga penuh tragedi—dan kadang tragisnya tuh... ngenes tapi lucu.

Rina, kelas 1 SMA, pernah beli pulsa Rp 10.000 demi ngirim SMS panjang buat cowok gebetannya, Dani.

“Aku gak tau kamu anggap aku apa, tapi aku ngerasa nyaman banget tiap kita ngobrol. Aku tulus kok…”

Dia tungguin balasan semalaman.
Gak ada.

Besoknya... Dani ganti status Friendster:

"In relationship with... Putri."
(Putri = sahabat Rina sendiri.)

Rina nangis seminggu. Tapi pas ditanya kenapa, dia cuma bilang:

“Bukan soal cowoknya... tapi pulsa gue hilang buat orang yang gak layak.” 😭

 

🛍️ Pulsa Itu Barang Berharga

Zaman dulu, kalau ada yang ngasih pulsa, itu lebih romantis dari bunga.

·         Kirim pulsa = “Aku perhatian.”

·         Kirim SMS tengah malam = “Aku mikirin kamu sebelum tidur.”

·         Misscall 3x = “Aku kangen.”

Itu semua adalah bahasa cinta anak Nokia.

Ada juga cerita lucu dari Andi:

“Gue pernah iseng kirim ‘Aku sayang kamu’ ke cewek, padahal pulsa tinggal sisa 2 SMS. Eh dia bales: ‘Hah? Siapa ya ini?’
Langsung gue matiin HP, pura-pura itu bukan gue.”

Pulsa habis, harga diri juga ikut lenyap.

 

😤 Dilema: Beli Pulsa atau Beli Es Teh?

Bagi pelajar zaman itu, Rp 5.000 punya dua pilihan berat:

1.      Beli es teh jumbo, gorengan, dan kenyang sampai sore.

2.      Beli pulsa buat ngirim “met bobo ya” ke gebetan.

Dan lebih seringnya, pilihan nomor 2 yang menang.

Kenapa?

Karena... perut bisa lapar, tapi cinta gak bisa ditunda.

 

🪙 Nominal Pulsa dan Level Perjuangan Cinta

Nominal Pulsa

Jumlah SMS

Level Perjuangan

Rp 2.000

±4 SMS

Uji Nyali

Rp 5.000

±10 SMS

Cinta Kasih Sederhana

Rp 10.000

±20 SMS

Siap Nembak!

Rp 20.000

> 30 SMS

Udah Jadian!

Rp 50.000

Unlimited?

Sultan Cinta

Kadang beli pulsa Rp 10.000 bisa jadi pengorbanan besar. Tapi itu semua dijalani dengan senyum, asal si doi bales:

“Aku juga sayang kamu…”

 

📲 HP Jadul, SMS Abadi

Uniknya, HP Nokia bisa menyimpan SMS-sms itu dalam jangka waktu lama. Bahkan kadang sampai bertahun-tahun.

Dan ketika HP-nya ketemu di gudang atau lemari, kita buka...

Ada SMS dari 2007:
“Hati-hati ya di jalan. Aku tunggu cerita kamu nanti.”

Langsung senyum sendiri, lalu mellow.

Bukan karena masih cinta. Tapi karena...

Dulu, cinta itu sederhana. Tapi perjuangannya luar biasa.

 

️ Penutup: Cinta Itu 160 Karakter + Rp 5.000

Zaman sudah berubah.
Sekarang kita bisa kirim ribuan kata lewat chat. Gratis. Bebas. Kapan saja.

Tapi...
Di balik kemudahan hari ini, kita sering lupa bagaimana cinta dulu disampaikan lewat keterbatasan.

·         SMS hanya 160 karakter.

·         Pulsa harus beli dulu.

·         Jawaban harus ditunggu.

·         Kalimat harus dipikirkan.

Dan dari situ, kita belajar bahwa:
Yang sederhana, kadang justru lebih bermakna.

Jadi kalau kamu pernah beli pulsa Rp 5.000 hanya untuk kirim:

“Jaga diri baik-baik ya…”

Selamat.
Kamu pernah mencintai dengan versi paling tulus:
Cinta yang berkorban, bukan cuma kirim emot love.

 

CERCU by Cemerlang Publishing
Kisah cinta, konyol, dan kenangan dari masa SMS yang tak terlupakan.

Punya cerita tentang beli pulsa demi cinta? Atau tragedi pulsa hangus buat orang yang ghosting? Ceritakan di kolom komentar ya. Biar kita nostalgia sambil ketawa (atau nangis) bareng!

Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...