Skip to main content

"Suami Disuruh Pilih Gorden, Hasilnya Bencana"


🎭  "Suami Disuruh Pilih Gorden, Hasilnya Bencana"

Karakter:

·         Maya – Istri yang perfeksionis, stylish, dan percaya suaminya “bisa disuruh belanja hal simple.”

·         Doni – Suami polos, sok yakin, tidak tahu bedanya gorden dan taplak meja.

·         Penjual Gorden – Ramah, tapi pasrah.

·         Narator – Menjelaskan isi hati para tokoh dengan gaya nyinyir.

 

[Adegan 1 – Di Rumah]

(Maya duduk di sofa sambil scroll Pinterest. Doni baru bangun, masih pakai kaus tidur.)

Maya:
Sayang, kita ganti gorden ruang tamu, yuk.

Doni:
(garuk-garuk kepala)
Oke. Warna apa?

Maya:
Yang netral, elegan, klasik, tapi nggak membosankan. Pokoknya cocok sama tone ruang tamu, ya.

Doni:
(ngangguk yakin)
Tenang, serahkan pada ahlinya.

Narator:
Dan di sinilah letak kesalahan terbesar dalam rumah tangga modern:
“Serahkan pada ahlinya.”

 

[Adegan 2 – Di Toko Gorden]

(Doni masuk ke toko, menatap kebingungan. Semua gorden terlihat… seperti gorden.)

Penjual:
Selamat siang, Pak. Mau cari gorden yang seperti apa?

Doni:
(elegan)
Yang netral... klasik... tapi nyentrik... tapi juga... lembut... tapi berani.

Penjual:
(berpikir keras)
Bapak maunya... gorden atau zodiak?

(Doni menunjuk kain mencolok: ungu mengkilap dengan bordir naga dan glitter.)

Doni:
Nah, ini. Ini nih. Elegan banget. Ada unsur budaya Asia juga!

Penjual:
Itu sebenarnya kain pelapis untuk panggung dangdut, Pak.

Doni:
Justru! Biar ruang tamu kita punya vibes konser!

 

[Adegan 3 – Di Rumah, Gorden Terpasang]

(Maya pulang dari kantor. Lihat ke ruang tamu. Mendadak... sunyi. Lalu...)

Maya:
APA ITU?!

Doni:
Dengan bangga, saya persembahkan...
Gorden Galaxy Ungu Edisi Terbatas!

Maya:
Itu...
Itu kelap-kelip, Don!
Itu bukan gorden, itu seperti... kostum Didi Kempot untuk konser tahun baru!

Doni:
Tapi kan elegan? Ada unsur budaya? Ada sentuhan personal? Aku bahkan minta bordir nama kita di pojok!

Narator:
Dan di titik itulah Maya sadar...
Tidak semua hal bisa dipercayakan kepada suami. Bahkan sesuatu sesederhana: “Pilih gorden.”

 

[Adegan 4 – Epilog Rumah Tangga]

(Maya menggulung gorden ungu glitter itu. Doni duduk lemas.)

Maya:
Mulai sekarang, kamu urus yang lain aja ya. Misalnya... bayar listrik.

Doni:
Baik. Tapi kalau nanti meteran diganti sama disko lamp, jangan salahkan aku...

 

Pesan Moral:

Suami boleh berpendapat. Tapi untuk urusan interior, percayakan saja pada istri. Atau… bersiaplah hidup dengan gorden yang bikin tamu trauma.

 

🎭 Suami Disuruh Pilih Gorden, Hasilnya Bencana

Ada kalanya dalam rumah tangga, seorang istri percaya bahwa suaminya bisa diberi kepercayaan.
Dan hari itu... Maya salah.

Semua berawal saat Maya sedang duduk santai di sofa sambil scroll Pinterest—surganya inspirasi estetik dan jebakan tren interior.

“Sayang, kita ganti gorden ruang tamu, yuk,” kata Maya sambil tetap fokus melihat foto ruang tamu impian dengan tone beige, hijau sage, dan aura ‘calm but expensive’.

Doni, sang suami tercinta, yang baru bangun tidur dan masih pakai kaus oblong dari zaman PDKT, menjawab penuh percaya diri:

“Oke. Warna apa?”

“Yang netral, elegan, klasik, tapi nggak membosankan. Pokoknya cocok sama tone ruang tamu, ya,” jawab Maya, seperti menjelaskan soal estetika pada calon mahasiswa desain interior.

Doni mengangguk mantap.

“Tenang, serahkan pada ahlinya.”

Dan di sinilah letak kesalahan fatal dalam sejarah rumah tangga Indonesia:

“Serahkan pada ahlinya.”

[Misi Gorden: Doni di Lapangan]

Berbekal semangat dan kepercayaan diri yang berlebihan, Doni pun berangkat ke toko gorden. Setibanya di sana, dia berdiri bingung. Semua kain terlihat sama: panjang, mengalir, dan... ya, seperti gorden.

Penjual menyapa ramah, “Selamat siang, Pak. Mau cari gorden yang seperti apa?”

Doni, dengan gaya seperti arsitek yang baru menang sayembara desain, menjawab:

“Yang netral... klasik... tapi nyentrik... lembut... tapi berani.”

Penjual terdiam. Matanya menerawang, mencoba menguraikan maksud dari kalimat puitis tapi tidak aplikatif ini.

“Bapak maunya... gorden atau zodiak?”

Akhirnya, Doni menunjuk satu kain mencolok berwarna ungu metalik, lengkap dengan bordiran naga emas dan aksen glitter.

“Nah, ini! Elegan banget! Ada unsur budaya Asia juga!”

Penjual menatap kain itu, lalu pelan menjelaskan:

“Itu sebenarnya kain pelapis panggung dangdut, Pak.”

“Justru! Biar ruang tamu kita punya vibes konser!”

[Gorden Terpasang: Mimpi Buruk Dimulai]

Sore harinya, Maya pulang kerja. Dia membuka pintu rumah dengan santai… lalu terdiam.

Apa yang dia lihat di ruang tamu bukanlah suasana estetik Pinterest yang dia harapkan, tapi seperti backstage konser orkes keliling.

“APA ITU?!” jerit Maya.

Doni, yang tampaknya bangga dengan pencapaian artistiknya, berdiri di depan gorden itu seolah sedang memperkenalkan karya seni kontemporer:

“Dengan bangga, saya persembahkan...
Gorden Galaxy Ungu Edisi Terbatas!

“Itu... kelap-kelip, Don! Itu bukan gorden, itu kayak kostum Didi Kempot waktu konser tahun baru!”

Doni tetap bertahan. Ia menyebutkan kata-kata ajaib seperti “unsur budaya”, “sentuhan personal”, bahkan:

“Aku minta bordir nama kita di pojok. Romantis, kan?”

Narator dalam hati Maya berkata lirih:

“Dan di titik itulah Maya sadar… tidak semua hal bisa dipercayakan kepada suami. Bahkan sesuatu sesederhana: pilih gorden.

[Epilog Rumah Tangga]

Besoknya, Maya terlihat menggulung gorden ungu itu dengan tatapan datar. Doni duduk di sudut ruangan, seperti murid yang kena skors.

“Mulai sekarang, kamu urus yang lain aja ya. Misalnya... bayar listrik,” kata Maya tegas.

Doni mengangguk pasrah, lalu bergumam:

“Tapi kalau nanti meteran diganti sama disko lamp, jangan salahkan aku…”

🎯 Pesan Moral:

Suami boleh berpendapat.
Tapi untuk urusan interior rumah, sebaiknya pendapat itu disimpan di dalam hati.

Atau…
Bersiaplah hidup dalam rumah yang tampak seperti panggung orkes keliling.
Dan tamu-tamu pun pulang dengan trauma visual.

Kalau kamu pernah mengalami kejadian seperti ini—baik sebagai Doni maupun Maya—tenang, kamu tidak sendiri.
Silakan share cerita paling absurd versi kamu di kolom komentar!
Dan ingat:
Satu keputusan interior bisa mengubah suasana rumah... dan status hubungan.


Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...