Skip to main content

🎭 "Balada Remote TV yang Selalu Hilang"

 


🎭 "Balada Remote TV yang Selalu Hilang"

Karakter:

·         Ibu – Sabar, rajin, tapi bisa jadi detektif saat remote hilang.

·         Ayah – Sok tenang, sok tahu lokasi remote, tapi 80% salah.

·         Rara – Anak remaja, pemilik hak veto atas semua channel.

·         Dito – Adik kecil, sering dicurigai, padahal polos.

·         Narator – Suara latar nyinyir yang membocorkan rahasia tiap tokoh.

 

[Adegan 1 – Ruang Keluarga, Pagi Hari]

(TV menyala menampilkan layar biru. Semua orang di ruang tamu. Tapi… remote tidak terlihat.)

Ibu
(Tangan di pinggang)
Oke. Siapa yang terakhir megang remote?

Rara
(Belaga sibuk pegang HP)
Bukan aku, Bu. Terakhir kayaknya Ayah.

Ayah
(Harap-harap cemas)
Lho, masa saya? Kan saya tidur dari tadi sore.

Dito
(Polos)
Aku pegang tadi… terus aku main pesawat… terus… aku lupa.

Narator
Dan di situlah awal tragedi dimulai.
Satu rumah. Satu remote. Banyak tersangka.

 

[Adegan 2 – Proses Pencarian]

(Semua mulai mencari remote dengan gaya masing-masing. Musik tegang seperti film detektif.)

Ibu
(Buka bantal sofa satu per satu, seperti sedang cari emas)
Kok bisa sih benda sepanjang 15 cm ini menghilang kayak diculik alien?!

Ayah
(Cek kulkas, freezer, dan dispenser)
Kita nggak boleh abaikan kemungkinan-kemungkinan absurd.

Rara
(Aktif scroll HP)
Bentar-bentar. Aku search: “Cara mencari remote TV yang hilang secara spiritual.”

Dito
(Senang sendiri)
Aku nemu remote mobil-mobilan. Bisa nggak, ya?

Narator
Dan inilah kekuatan remote:
Saat hilang, semua orang merasa jago investigasi. Tapi hasilnya: nol besar.

 

[Adegan 3 – Ketegangan Meningkat]

Ibu
(duduk pasrah)
Sudah 30 menit kita cari, masih belum ketemu.
TV menyala sia-sia. Listrik terbuang. Sabar mulai menguap.

Ayah
(Berkata bijak)
Mungkin… mungkin remote tidak hilang.
Mungkin dia hanya ingin sendiri.
Menjauh dari hiruk pikuk kehidupan modern.

Ibu
(Antara marah dan geli)
Itu remote, bukan mantan pacar!

 

[Adegan 4 – Penemuan Mengejutkan]

(Dito mendadak berseru dari bawah meja.)

Dito
BUUUU!! Aku nemu!!!
Remote-nya ada di dalam… tempat nasi!

Ibu, Ayah, dan Rara serempak:
APA?!

Dito
Tadi waktu makan ayam, aku pegang remote juga... terus aku bingung... jadi aku simpan aja.

Narator
Remote ditemukan. Damai kembali. Tapi luka di hati… masih tertinggal.

 

[Epilog – 5 Menit Kemudian]

(TV mulai dipindah-pindah channel oleh Rara. Semua sudah tenang.)

Ibu
Eh, remote-nya mana lagi?

Ayah
Lho… kan tadi di tangan kamu?

Rara
Enggak… tadi aku taruh di...

Dito
(Ekspresi panik)
...Bukan aku kali ini!!

Narator
Dan begitulah...
Remote TV, kecil bentuknya... besar pengaruhnya... hilang datangnya tak bisa diprediksi.
Mungkin bukan remote yang hilang.
Mungkin… kita yang belum siap kehilangannya.

 

Pesan Moral:

Jangan remehkan remote TV.
Karena begitu dia hilang,
satu keluarga bisa berubah jadi tim SAR.

 


=======================================================

🎭 Balada Remote TV yang Selalu Hilang

Di setiap rumah, pasti ada satu benda kecil tapi punya kekuatan besar. Bukan emas, bukan surat tanah, tapi...

REMOTE TV.

Benda mungil ini punya kemampuan mengendalikan semua orang di rumah. Saat dia ada, semua damai. Tapi begitu hilang...

Perang Dunia Ketiga pun bisa dimulai.

Dan pagi itu, di ruang keluarga keluarga kecil kita, perang pun meletus.

🛋️ [ADEGAN 1 – TV Menyala, Remote Menghilang]

TV sudah nyala, layar biru menatap semua orang dengan tatapan "ayo, ganti channel dong."
Tapi... tidak ada yang bisa. Karena remotenya hilang.

Ibu berdiri dengan tangan di pinggang, tatapan tajam seperti detektif kriminal.

Ibu:
"Oke. Siapa yang terakhir megang remote?"

Rara, si remaja yang hidupnya sudah menyatu dengan HP, menjawab tanpa menoleh:

Rara:
"Bukan aku, Bu. Terakhir kayaknya Ayah."

Ayah yang baru sadar dia diseret jadi tersangka langsung panik elegan:

Ayah:
"Lho, masa saya? Kan saya tidur dari tadi sore!"

Dan seperti biasa, tersangka utama adalah makhluk paling kecil dan paling polos di rumah:

Dito (6 tahun, lugu):
"Aku pegang tadi… terus aku main pesawat… terus… aku lupa."

Narator:
Dan di situlah awal tragedi dimulai.
Satu rumah. Satu remote. Banyak tersangka.
Dan semuanya... bersikeras tak bersalah.

🔍 [ADEGAN 2 – Misi Pencarian Remote Dimulai]

Operasi SAR pun resmi dimulai. Semua orang bergerak dengan gaya masing-masing.

Ibu: Buka-buka bantal sofa satu per satu kayak sedang cari tambang emas.
Ayah: Ngecek kulkas, freezer, sampai dispenser. Karena “siapa tahu aja masuk situ.”
Rara: Googling. Tapi bukan cara mencari remote secara logis. Dia malah cari:

“Cara menemukan remote TV yang hilang secara spiritual.”

Sementara itu, Dito…

Dito:
"Aku nemu remote mobil-mobilan. Bisa nggak ya ganti channel pakai ini?"

Narator:
Dan itulah keajaiban remote.
Saat dia hilang, semua orang tiba-tiba merasa seperti detektif...
Tapi hasilnya: nol besar dan satu rumah makin panas.

🔥 [ADEGAN 3 – Ketegangan Menyentuh Puncaknya]

Waktu terus berjalan. TV tetap menyala, menayangkan... layar biru.
Ibu sudah pasrah, duduk di sofa sambil pijat pelipis.

Ibu:
"Sudah 30 menit kita cari, masih belum ketemu.
TV nyala sia-sia. Listrik terbuang. Sabar mulai menipis."

Tapi Ayah tetap sok filosofis:

Ayah (dalam mode bijak):
"Mungkin… remote tidak hilang. Mungkin dia hanya... ingin sendiri.
Menjauh dari hiruk pikuk kehidupan modern."

Ibu:
"Itu remote, Pak. Bukan mantan pacar!"

🧺 [ADEGAN 4 – Kebenaran Terungkap]

Tiba-tiba, terdengar teriakan penuh kemenangan dari bawah meja makan.

Dito:
"BUUUU!! Aku nemu!!!
Remote-nya ada di dalam… tempat nasi!"

Seluruh rumah terdiam.

Ibu, Ayah, Rara (serempak):
"APA?!"

Dito (nyengir):
"Tadi pas makan ayam, aku sambil pegang remote… terus aku bingung, jadi aku simpen aja."

Narator:
Remote ditemukan. Kedamaian kembali hadir.
Tapi luka di hati... dan listrik yang sudah kebuang... tetap menyisakan trauma.

📺 [EPILOG – Lima Menit Kemudian…]

TV akhirnya berfungsi. Rara pegang kendali penuh atas remote, mulai gonta-ganti channel seperti dewa kecil. Semua sudah tenang...

Sampai...

Ibu:
"Eh, remote-nya mana lagi?"

Ayah:
"Lho… tadi di tangan kamu?"

Rara:
"Enggak… tadi aku taruh di…"

Dito (langsung defensif):
"BUKAN AKU KALI INI!!"

Narator:
Dan begitulah…
Remote TV — kecil bentuknya, besar pengaruhnya.
Hilang, datang, dan kadang... membuat satu keluarga bertanya-tanya:

“Apakah kita yang belum siap kehilangannya… atau dia yang terlalu bebas dicintai semua orang?”

🎯 Pesan Moral:

Jangan remehkan remote TV.
Begitu dia hilang,
Satu keluarga bisa berubah jadi tim pencarian dan penyelamatan nasional.
Dan kadang... jawaban dari misterinya...
ada di tempat nasi.


Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...