Skip to main content

Komedi Nostalgia: Anak 90an Pasti Paham


(Suasana: Sebuah tongkrongan santai di warung kopi, tiga sahabat—Andi, Budi, dan Cipto—sedang ngobrol nostalgia masa kecil mereka.)

Andi: Bro, lu sadar nggak sih? Anak-anak zaman sekarang tuh nggak bakal ngerti perjuangan kita dulu.

Budi: Maksud lu? Perjuangan ngelawan emak pas disuruh tidur siang?

Cipto: Atau perjuangan ngecilin volume TV pelan-pelan pas nonton film kartun pagi biar nggak ketahuan bapak?

Andi: Itu juga! Tapi yang lebih gila lagi, dulu kita tuh harus punya keterampilan tingkat tinggi buat muterin kaset pita yang kusut!

Budi: Wah, iya! Itu teknik yang cuma anak 90an yang paham. Lu harus pakai pensil buat gulung ulang pita kasetnya. Kalo salah dikit, bisa nyangkut dan suaranya jadi kaya robot kesurupan.

Cipto: Gue pernah tuh, pas mau dengerin lagu Sheila on 7, eh tiba-tiba pita kasetnya ketarik. Langsung panik, bro! Gue gulung pakai pensil sambil baca doa.

Andi: Hahaha, asli! Tapi ngomong-ngomong soal tragedi, lu masih inget layar TV semut nggak? Itu horor banget! Tiap kali nyetel TV, bukannya nonton kartun malah dapet “Wushhhhhh…” alias siaran semut.

Budi: Iya, tuh! Harus gebrak-gebrak TV dulu biar gambarnya normal. Kadang malah mesti mukul-mukul pake sandal! Anehnya, berhasil! Kayak TV-nya ngerti bahasa kekerasan gitu.

Cipto: Atau kalau udah parah, harus naikin antena ke atas genteng. “Udah bening belum?” Padahal yang di bawah selalu jawab, “Belum! Geser dikit lagi!” Sampai akhirnya ketiduran di atas genteng.

Andi: Nah, sekarang nggak ada tuh yang kayak gitu. Tinggal pencet tombol remote, beres.

Budi: Zaman dulu mah beda! HP aja, dulu paling keren tuh Nokia 3310. Nggak ada yang bisa ngalahin keawetan dan ketahanan batrenya!

Cipto: Yaelah, HP Nokia tuh nggak cuma awet batrenya, bro, tapi juga bisa dipake buat nimpuk maling, dijamin malingnya KO!

Andi: Itu HP bisa dipake buat bangun rumah! Kalau bata kurang, tumpuk aja Nokia 3310, pasti lebih kuat dari semen instan.

Budi: Waktu itu, gue punya Nokia, tiap kali jatuh, yang rusak bukan HP-nya, tapi lantainya! Sekarang mah, HP jatuh dikit aja udah drama, langsung layar retak kayak hati yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Cipto: Hahaha, bener! Dan dulu tuh HP cuma buat SMS dan main Snake. Sekarang? HP dipake buat ngedit video, belanja, bahkan jadi dompet digital. Anak zaman sekarang kalau HP-nya ketinggalan, bisa langsung gagal jantung!

Andi: Zaman berubah, bro. Tapi jujur aja, gue kangen masa-masa dulu. Nggak ada medsos, nggak ada drama online, tapi kita tetap bahagia.

Budi: Bener! Bahagia kita sederhana, kayak makan ciki dapet hadiah, atau main ke rumah temen buat main PS1.

Cipto: Sekarang mah, anak-anak udah nggak ngerti apa itu kaset pita, layar TV semut, dan ketahanan HP Nokia. Kita mah generasi tangguh, bro!

Andi & Budi: Setuju! Anak 90an tetap yang terbaik!

(Mereka tertawa bersama, mengenang masa kecil yang penuh perjuangan dan kebahagiaan sederhana.)


TAMAT

Comments

Popular posts from this blog

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...