Skip to main content

Dilema Tukang Parkir

 Dilema Tukang Parkir"


Setting:

Sebuah parkiran minimarket. Bang Jono, seorang tukang parkir berpengalaman, sedang berjaga sambil memainkan peluitnya. Ia terbiasa mengandalkan suara mesin kendaraan untuk mengatur lalu lintas parkir.


Adegan 1: Awal Masalah

(Bang Jono berdiri di parkiran sambil bersiul, memperhatikan kendaraan keluar masuk. Tiba-tiba, ia melihat mobil di depannya bergerak sendiri.)

Bang Jono: (celingak-celinguk) "Lho? Ini mobil jalan sendiri? Setan kali ya?"

(Ia melompat mundur dan melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mendorong mobil itu.)

Bang Jono: "Waduh, ini kerasukan apa gimana?!"

(Mobil listrik semakin mendekat dengan tenang, tanpa suara sedikit pun. Saat sudah dekat, jendela terbuka dan terlihat seorang pengemudi, Pak Dedi.)

Pak Dedi: "Bang, kok diem aja? Saya mau parkir nih!"

Bang Jono: (masih panik) "Astaga, Pak! Saya kira mobil ini kesurupan! Kok nggak ada suaranya sama sekali?!"

Pak Dedi: (tertawa) "Wah, ini mobil listrik, Bang. Emang nggak ada suaranya."

Bang Jono: (mengelus dada) "Gitu ya... Kirain saya bakal masuk berita, 'Tukang Parkir Diteror Mobil Gaib'!"


Adegan 2: Kebingungan Bang Jono

(Bang Jono mencoba memandu parkir seperti biasa, tapi tanpa suara mesin, dia merasa bingung kapan harus memberi aba-aba.)

Bang Jono: (bersiap dengan peluit) "Oke, Pak. Mundur... Mundur..."

(Mobil tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Bang Jono tidak yakin apakah mobilnya sudah bergerak atau belum.)

Bang Jono: (melihat ke belakang mobil, lalu ke depan lagi) "Lho? Ini udah mundur belum?"

Pak Dedi: (mengangguk) "Udah, Bang."

Bang Jono: (mencoba menajamkan pendengaran) "Tapi kok saya nggak denger suara 'ngeengg'?"

Pak Dedi: (tertawa kecil) "Kan saya bilang, mobilnya listrik, Bang!"

Bang Jono: (garuk kepala) "Duh, susah juga ya. Biasanya saya denger suara mesin, baru saya teriak 'stooopp!'"


Adegan 3: Strategi Baru

(Bang Jono mulai mencoba strategi baru.)

Bang Jono: (mikir keras, lalu punya ide) "Oh, saya tahu! Pak, saya bakal kasih kode pakai mimik wajah aja!"

Pak Dedi: "Mimik wajah?"

Bang Jono: (mengangguk serius) "Iya, kalau saya senyum dikit, berarti mundur pelan-pelan. Kalau alis saya naik, berarti hampir nabrak. Kalau mata saya melotot, BERHENTI SEKARANG!"

Pak Dedi: (tertawa) "Waduh, saya jadi ngerasa ikut audisi pantomim nih!"


Adegan 4: Eksperimen Gagal

(Pak Dedi mulai memundurkan mobil perlahan-lahan. Bang Jono mengikuti dengan ekspresi wajah berlebihan.)

Bang Jono: (senyum kecil – artinya 'mundur pelan-pelan')

Pak Dedi: (melihat kaca spion, ikut tersenyum balik karena bingung) "Bang, kenapa malah senyum-senyum?"

Bang Jono: (mengelevasi alis – artinya 'hati-hati')

Pak Dedi: (melihat lagi, jadi tambah bingung) "Bang, alis naik maksudnya apa? Saya harus gas atau rem?"

Bang Jono: (membelalak mata – artinya 'BERHENTI!')

Pak Dedi: (panik, malah injak gas!)

(Mobil hampir menabrak troli belanja. Bang Jono langsung melompat mundur dan meniup peluit sekencang-kencangnya!)

Bang Jono: "PAK, BERHENTI! ITU MAU MASUK TOKO APA GIMANA?!"

Pak Dedi: (cepat-cepat injak rem dan keluar mobil dengan wajah panik) "Astaga, Bang! Maaf, saya kira ekspresi Bang tadi ngajakin selfie!?"

(Keduanya terdiam sejenak. Bang Jono menghela napas panjang, sementara Pak Dedi masih memegang dadanya.)


Adegan 5: Solusi Klasik

(Setelah kejadian itu, Bang Jono menyerah dengan ekspresi wajah dan kembali ke metode tradisional.)

Bang Jono: (mengusap keringat) "Udahlah, Pak. Mulai sekarang kalau parkir pakai mobil listrik, kasih tahu saya dulu ya biar saya siap mental!"

Pak Dedi: (tertawa) "Siap, Bang. Saya usul, Bang Jono pakai suara sendiri aja. Teriak 'ngeengg' biar saya juga ikut paham!"

Bang Jono: (mikir sebentar, lalu mencoba) "Ngeeeeeng... ngeeeeeng... STOP!"

Pak Dedi: (tertawa sambil tepuk tangan) "Wah, ini baru tukang parkir serba bisa!"


Tamat. 😆

Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...