Skip to main content

Autocorrect, Penyebab Banyak Salah Paham di Grup WhatsApp

 

Autocorrect, Penyebab Banyak Salah Paham di Grup WhatsApp

Adegan 1: Grup Keluarga Sebuah grup WhatsApp keluarga sedang ramai membahas rencana arisan keluarga minggu depan. Di layar ponsel, pesan-pesan terus bermunculan.

Tante Lina: Minggu depan kita arisan di rumah siapa ya?

Om Budi: Di rumah aku aja, tapi bawa makanan masing-masing ya!

Bu Dewi: Setuju, Om Budi. Aku bawa bakso.

Pak Heri: Aku bawa tahu isi.

Andi: Aku bawa... mantan! Eh, maksudku MARTABAK!

(Grup langsung hening beberapa detik, lalu muncul banyak pesan balasan.)

Tante Lina: Andi, jangan bikin drama ya! Mantan kamu kan udah nikah.

Om Budi: Wah, ini arisan keluarga atau reuni?

Andi: (panik) Aduh, maksudku martabak, bukan mantan! Autocorrect nih!

Adegan 2: Grup Teman Kantor Di grup WhatsApp kantor, para pegawai sedang membahas tugas penting yang harus selesai sebelum deadline.

Pak Anton: Jangan lupa, laporan harus selesai hari ini.

Bu Rina: Siap, Pak. Saya sudah hampir selesai.

Andi: Saya juga sudah 80% selesai, tinggal nambah gambar aja.

Bu Rina: Bagus, Andi! Apa butuh bantuan?

Andi: Nggak, Bu. Semua gambar sudah di edit santu. Eh, maksudnya edit santuy. Eh, astaga... edit SATU.

Pak Anton: Edit santu? Apa itu? Metode baru?

Bu Rina: Andi, fokus dong! Jangan bercanda terus.

Andi: (frustrasi) Bukan bercanda, ini autocorrect!

Pak Anton: Kalau begitu, belajar mengetik yang benar, Andi.

Andi: (bergumam) Autocorrect, kau penyebab banyak salah paham di hidupku...

Adegan 3: Grup Teman Kuliah Grup WhatsApp teman kuliah sedang merencanakan reuni kecil-kecilan.

Rani: Guys, reuni di kafe atau di taman?

Budi: Aku sih lebih suka di kafe. Ada yang mau pesan tempat?

Andi: Aku aja yang pesan, biar sekalian cek menu masala. Maksudku menu makanan! Eh, kenapa jadi masala?

Rani: Menu masala? Kita makan makanan India ya?

Budi: Wah, reuni internasional nih!

Andi: (frustrasi) Maksudku makanan biasa! Bukan masala! Autocorrect lagi-lagi merusak hidupku!

Rani: Tenang, Andi. Yang penting, pesan tempatnya benar ya. Jangan sampai kita malah reuni di India.

(Grup pun tertawa bersama.)

Penutup: Terkadang, autocorrect membuat percakapan jadi lebih seru dan penuh kejutan. Meski sering bikin salah paham, setidaknya ada bahan tawa untuk dikenang!



Autocorrect, Penyebab Banyak Salah Paham di Grup WhatsApp

Di zaman serba digital ini, komunikasi menjadi lebih cepat dan praktis. Cukup buka WhatsApp, ketik pesan, kirim—beres. Tapi seiring kemudahan itu, datanglah satu fitur canggih yang sering kali justru menimbulkan kekacauan: autocorrect.

Ya, fitur pintar yang katanya membantu, tapi kadang lebih sering membuat kita malu sendiri. Entah karena salah ketik atau prediksi kata yang terlalu sok tahu, autocorrect telah menciptakan ribuan momen kocak, salah paham, bahkan perdebatan tidak perlu di grup-grup WhatsApp.

Kisah berikut ini adalah bukti nyata betapa autocorrect layak mendapat penghargaan sebagai pencipta kekacauan terselubung.

Adegan 1: Grup Keluarga – Martabak Jadi Mantan

Grup WhatsApp keluarga “Keluarga Besar Kurniawan” biasanya ramai tiap malam Minggu. Isinya mulai dari foto kucing peliharaan, resep herbal dari nenek, sampai diskusi serius: arisan keluarga.

Malam itu, diskusi dimulai dengan santai.

Tante Lina:
Minggu depan kita arisan di rumah siapa ya?

Om Budi:
Di rumah aku aja, tapi bawa makanan masing-masing ya!

Bu Dewi:
Setuju, Om Budi. Aku bawa bakso.

Pak Heri:
Aku bawa tahu isi.

Lalu, muncullah pesan dari Andi, si keponakan yang baru saja pindah kerja ke luar kota.

Andi:
Aku bawa... mantan!

...Hening sejenak. Pesan berikutnya muncul satu per satu:

Tante Lina:
Andi, jangan bikin drama ya! Mantan kamu kan udah nikah sama anaknya Bu RW.

Om Budi:
Wah, ini arisan keluarga atau reuni masa lalu?

Bu Dewi:
Hati-hati lho, nanti suasananya jadi tegang.

Andi:
(panik)
Eh, bukan mantan maksudku! MARTABAK! AUTOCORRECT!!! Sumpah itu typo!

Pak Heri:
Hahaha... mantan dan martabak memang sama-sama bikin kangen, ya.

Akhirnya grup pun penuh emoji tertawa. Dan sejak saat itu, Andi dikenal sebagai “Martabak Ex.”

Adegan 2: Grup Teman Kantor – Santu vs Satunya

Di grup WhatsApp kantor “Tim Proyek Maju Terus”, suasana sedang serius. Deadline laporan tinggal beberapa jam lagi, dan semua sibuk menyelesaikan tugas.

Pak Anton (manajer):
Jangan lupa, laporan harus selesai hari ini sebelum jam 5.

Bu Rina:
Siap, Pak. Saya sudah hampir selesai.

Andi:
Saya juga sudah 80% selesai, tinggal nambah gambar aja.

Bu Rina:
Bagus, Andi! Apa butuh bantuan?

Andi:
Nggak, Bu. Semua gambar sudah di edit santu.

... Diam. Sunyi. Semua seperti menghentikan ketikan masing-masing.

Bu Rina:
Edit... santu? Maksudnya gimana?

Pak Anton:
Apakah ini teknik desain baru? Santu? Saya baru dengar.

Andi:
(panik lagi)
Bukan santu maksud saya! SATU! SATU!! Semua gambar sudah di edit SATU! ASTAGA AUTOCORRECT!!!

Pak Anton:
Andi, belajar mengetik yang benar ya. Jangan sampai klien kita ikut santu.

Andi:
(bergumam di hati)
"Autocorrect, kau penyebab banyak salah paham di hidupku..."

Adegan 3: Grup Teman Kuliah – Reuni Internasional

Di grup WhatsApp alumni kuliah, “GenK 2008 Tersayang,” para anggota sedang semangat mengatur reuni kecil-kecilan setelah sekian tahun tak bertemu.

Rani:
Guys, reuni enaknya di kafe atau taman?

Budi:
Kalau aku sih pilih kafe. Bisa sambil ngopi. Ada yang bisa booking tempat?

Andi (lagi-lagi dia):
Aku aja yang pesan, biar sekalian cek menu masala.

...

Rani:
Menu masala? Kita makan makanan India ya?

Budi:
Wih, reuni kita jadi internasional dong!

Andi:
Duh! Maksudku menu makanan! Biasa! Biasa aja! Masala itu typo, autocorrect lagi!

Rani:
Santai, Andi. Yang penting tempatnya bukan di Mumbai ya.

Andi:
Saya capek hidup seperti ini...

Seluruh grup pun tertawa bersama. Bahkan, salah satu teman membuat stiker bertuliskan “Reuni Rasa Masala” dengan wajah Andi di tengah-tengah piring kari.

Adegan Bonus: Grup RT – Bakar Ikan atau Bakar Emosi?

Suatu malam, grup RT 03 mengadakan diskusi soal acara bakar ikan menyambut tahun baru.

Pak RW:
Kita bakar ikan bareng ya malam tahun baru. Semua keluarga diundang.

Bu Lilis:
Asik, saya bawa sambal.

Pak Surya:
Saya bawa arang dan kipas.

Andi (ya, dia lagi, ternyata warga RT 03):
Saya bawa emosi! Eh, maksud saya ESKO! Astaga! ES BATU!

Bu Lilis:
Andi, kamu bawa emosi aja, nggak usah ikut acara.

Pak Surya:
Wah, suasana bakar ikan bisa jadi drama Korea kalau kamu bawa emosi.

Andi:
Demi Tuhan, ini bukan salahku. Ini salah autocorrect!!!

Grup pun penuh stiker, mulai dari “Emosi Level 100” hingga gambar ikan bakar pakai emot marah.

Penutup: Saat Autocorrect Jadi Sumber Komedi

Dulu, autocorrect diciptakan untuk membantu. Supaya orang nggak typo, supaya lebih cepat mengetik. Tapi nyatanya... hidup lebih ramai dan berwarna justru karena kegagalannya.

Bayangkan saja:

  • Martabak berubah jadi mantan.

  • Edit satu jadi edit santu.

  • Menu makanan jadi menu masala.

  • Es batu jadi emosi.

Satu-satunya yang untung dari semua ini mungkin adalah admin grup WhatsApp—karena engagement grup melonjak tajam tiap kali ada kejadian salah ketik.

Dan bagi Andi, pahlawan utama cerita ini, autocorrect bukan lagi fitur bantu-mengetik. Tapi lebih seperti teman iseng yang suka menjebak diam-diam.

Pelajaran hari ini?
Sebelum tekan “kirim”, baca lagi dengan tenang. Dan kalau terlanjur salah? Nikmati saja. Toh, kadang yang paling lucu dalam hidup... adalah hal-hal tak terduga yang membuat kita tertawa bareng.

#CERCU #CeritaLucu #AutocorrectKacau #MantanMartabak #EditSantu #MasalaMania #GrupWAKeluarga

Kamu punya cerita kocak soal autocorrect juga? Kirim ke kami dan biarkan dunia tahu bahwa kamu juga pernah terjebak oleh fitur yang (katanya) cerdas ini!






Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...