Skip to main content

"Drama Putus Cinta di Taman: Ricky & Rina, tapi Tunggu Dulu… Mereka .... Semua?!"


Hari itu, di sebuah taman kota yang biasa aja—bukan taman mewah kayak di film-film Hollywood—ada sepasang kekasih yang lagi duduk di bangku kayu udah agak lapuk. Namanya Ricky dan Rina. Tapi jangan bayangin mereka kayak pasangan romantis ala sinetron ya. Ceritanya bakal bikin lo geleng-geleng kepala, karena ternyata… well, baca aja sampai habis!

Pembukaan yang Nggak Kayak Biasanya

Ricky, cowok dengan gaya santai pakai kaus oblong dan celana jeans belel, ngeliatin Rina dengan wajah berat. Udah dari tadi dia ngerasa nggak enak hati, tapi keputusan udah diambil. Harus disampaikan sekarang juga.

Ricky"Sayang… aku mau kita putus."

Rina, yang lagi asik mainin jarinya sendiri, langsung kaget. Mukanya berubah kayak orang baru dikasih tau kalau es krim favoritnya udah nggak dijual lagi.

Rina"Kenapa?! Kok kamu tega mau ninggalin aku sendiri? Aku udah cinta banget sama kamu!"

Ricky menghela napas dalem. Ini nggak gampang. Tapi dia udah ngerasa hubungan mereka nggak bisa dilanjutin.

Ricky"Maafin aku, sayang. Ini jalan terbaik buat kita."

Rina langsung panik. "Semua udah aku berikan buat kamu! Aku bahkan udah bilang ke orang tuaku kalau kita bakal nikah!"

Ya ampun. Ricky ngerasa kayak jadi antagonis di sinetron. Tapi dia tetep teguh.

Ricky"Aku minta maaf, Rin. Tapi ini harus."

Rina nggak mau nerima gitu aja. "Aku mau alasan yang jelas! Kenapa kamu mau mutusin aku?!"

Nah, di sini bagian yang bikin meledak. Ricky pelan-pelan ngelukis wajah Rina, lalu…

Ricky"Aku sadar, hubungan kita… dilarang agama."

Rina bingung. "Dilarang gimana? Kita kan sama-sama Islam!"

Ricky manggut-manggut. "Iya, aku tau… tapi…"

dramatic pause

Ricky"TAPI RINALDY… SADARLAH KITA INI COWOK!!!"

WHAT?!

Plot Twist yang Bikin Kaget Setengah Mati

Yup. Rina ternyata bukan cewek. Namanya Rinaldy, tapi dipanggil Rina karena… entahlah, mungkin dia suka aja jadi yang feminin. Ricky dan Rina (eh, Rinaldy) ternyata pasangan gay yang selama ini hubungan mereka dirahasiain.

Rinaldy langsung mewek. "Jadi selama ini kamu nggak bisa nerima aku apa adanya?!"

Ricky nyesek. "Bukan gitu, Rin. Aku cuma ngerasa kita nggak bisa terus begini. Aku mau balik ke jalan yang bener."

Rinaldy nggak terima. "Kamu dulu yang ngejar aku! Kamu yang bilang cinta! Sekarang kamu mau kabur gitu aja?!"

Ricky nunduk. "Aku salah. Tapi aku nggak mau terus hidup dalam dosa."

Reaksi Netizen Kalau Ini Jadi TikTok

Bayangin aja kalau adegan ini ke-viral di TikTok. Komentar netizen bakal kacau:

"WKWKWKWK GAK NYANGKA BANGET"

"Dari awal udah curiga sih, mukanya Rina kok kayak cowok banget."

"Ini mah sinetron Indosiar season baru."

"Rina ternyata Rinaldy… my trust issues are getting worse."

Tapi di balik kelucuannya, ini sebenarnya cerita sedih. Dua orang yang saling mencintai, tapi terhalang sama norma dan agama. Ricky memilih untuk mengakhiri karena tekanan sosial dan keyakinannya, sedangkan Rinaldy ngerasa dikhianati.

Akhir Cerita: Mereka Putus, Tapi…

Setelah pertengkaran emosional itu, Ricky pergi ninggalin Rinaldy di taman. Rinaldy nangis sejadi-jadinya, makeupnya luntur (ya iyalah, kan cowok), dan akhirnya nyadar bahwa hubungan mereka emang nggak akan bisa diterima masyarakat.

Beberapa bulan kemudian, Ricky udah mulai ikut pengajian dan mencoba move on. Sementara Rinaldy… kabarnya dia pindah ke Jakarta, jadi drag queen dan sering perform di klub malam.

Moral of the story?

Jangan samain nama panggilan sama nama asli, nanti malah bikin misleading.

Cinta itu rumit, apalagi kalau melawan norma.

Kalau mau putus, jangan di taman, soalnya bisa jadi bahan viral.

THE END.

Eh, tapi serius, ini fiksi ya guys. Kalau ada yang nyata, semoga mereka dapet jalan terbaik. 😅

 

Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...