Skip to main content

Surti ke Jakarta – Ketika Lift Disangka Kamar Hotel


Surti ke Jakarta – Ketika Lift Disangka Kamar Hotel

Setiap orang punya kali pertama. Pertama kali naik pesawat, pertama kali makan sushi, pertama kali ke luar negeri, atau… pertama kali nginep di hotel bintang lima.

Dan kali ini, giliran Surti.

Gadis desa yang lugu tapi percaya diri luar biasa ini akhirnya menginjakkan kaki di Jakarta untuk liburan. Bukan liburan ecek-ecek. Bukan juga nginap di rumah saudara yang sempit dan rame. Surti ingin mencoba hidup mewah ala selebgram: nginep di hotel bintang lima, pesan kamar luxury, dan menikmati hidup sejenak dari hiruk-pikuk sawah dan ternak.

“Pokoknya, aku gak mau disebut kampungan! Aku mau buktiin, anak desa juga bisa tampil gaya!” katanya dengan semangat 45 sambil ngeluarin powerbank dari tas anyaman.

 

Babak Awal: Check-in dan Cita-cita

Hari itu, Surti tiba di Jakarta dengan travel. Rambutnya dikuncir dua, pakai baju blouse bermotif bunga cerah, dan sandal wedges yang baru dibeli di pasar Minggu kemarin. Di tangannya, koper pink terang yang bunyinya krek-krek setiap ditarik.

Begitu tiba di hotel, matanya membulat.

Lobby-nya luas, lampunya berkilauan, dan pegawainya berdasi semua. Ada bunga-bunga wangi di meja resepsionis, air mancur kecil di sudut, dan suara piano mengalun pelan. Surti langsung berdiri tegak dan melangkah penuh gaya.

“Selamat datang di Hotel Mahadewi Premier, ada yang bisa kami bantu, Ibu?” sapa resepsionis sopan.

Surti tersenyum, mencoba tampil seperti sosialita. “Saya pesan luxury room, yang view-nya bisa liat kota dari atas. Ini hotel bintang lima kan? Harus istimewa!”

Sang resepsionis mengangguk, lalu memanggil RoomBoy, petugas hotel yang akan mengantarnya ke kamar. RoomBoy ini sopan, tinggi, rapi, dan sudah biasa menghadapi tamu dari berbagai kalangan. Tapi kali ini, dia belum tahu... akan menghadapi badai Surti.

 

Adegan Menggelikan: Lift yang Disangka Kamar

RoomBoy berjalan di depan, menarik koper Surti. Sambil tersenyum, dia membuka pintu LIFT, dan mempersilakan Surti masuk lebih dulu.

Surti menatap ruangan sempit dengan dinding mengkilap, tanpa kasur, tanpa TV, tanpa kamar mandi. Dia mulai curiga. Tapi karena orangnya to the point, dia langsung bicara:

Hey bang!! Aku emang orang kampung, tapi aku gak kampungan ya! Jangan dikira aku gak bisa bayar sewa kamar hotel mewah ini!!

RoomBoy terdiam, kaget. Tamu ini langsung meledak tanpa aba-aba.

Ini bukan kamar yang aku pesan!!! Kamar ini sempit, sumpek, gak ada TV, tempat tidur, kamar mandi!! Masa luxury room kayak gini? Bapak kira saya ini tamu recehan?

Suasana di dalam lift mendadak tegang.

RoomBoy masih berusaha tenang. Dengan suara hati-hati, dia menjelaskan:

Maaf Mbak… ini belum kamarnya. Kita ini… masih di lift.

Seketika, dunia seakan berhenti.

Surti terdiam.

Mukanya memerah. Bukan karena marah, tapi karena malu setengah mati. Merah padam seperti tomat disiram cabe rawit. Matanya berkaca-kaca. Bukan mau nangis, tapi nahan rasa ingin ngilang dari muka bumi.

Lift pun akhirnya berbunyi ting! dan pintu terbuka.

RoomBoy tetap profesional, seolah tidak terjadi apa-apa, dan mempersilakan Surti masuk ke kamar yang sesungguhnya: luas, mewah, lengkap dengan TV layar datar, jendela tinggi dengan pemandangan kota Jakarta, dan ranjang besar empuk seperti awan.

Surti hanya bisa berdiri mematung, lalu berkata pelan:

“Hehe... maaf ya Bang... aku kira tadi itu udah kamarnya...”

RoomBoy tersenyum sopan. Tapi saat dia balik badan keluar kamar, dia baru bisa senyum lebar dan nyaris ketawa cekikikan di lorong.

 

Cerita Malu yang Jadi Legenda

Beberapa jam kemudian, Surti duduk di kursi kamar, minum teh sambil merenung. Peristiwa barusan terus berputar di kepalanya. Rasa malunya belum hilang. Tapi kemudian dia mikir:

“Yah... daripada pura-pura ngerti tapi gak ngerti, mending ngomong jujur aja. Kan aku juga belajar…”

Dan benar saja, kisah “Surti ngamuk di lift karena disangka kamar hotel” akhirnya menyebar ke grup WhatsApp keluarga, lalu ke status Facebook tante-tantenya, dan akhirnya jadi cerita lucu yang akan diulang-ulang tiap kali reuni keluarga.

 

Tapi, Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Surti?

1. Jangan Takut Salah, Tapi Jangan Sok Tahu

Surti salah sangka, iya. Tapi lebih baik dia ngomong daripada diam dan pura-pura ngerti. Kadang, kejujuran dalam kebodohan lebih baik daripada kesombongan dalam kepalsuan.

2. Malu Itu Manusiawi

Semua orang pasti pernah malu. Entah karena salah ngomong, salah masuk ruangan, salah kirim chat, atau kayak Surti: salah kira lift sebagai kamar hotel. Tapi dari rasa malu itu, kita belajar untuk lebih hati-hati, lebih bijak, dan lebih... tertawa atas kebodohan sendiri.

3. Percaya Diri Boleh, Tapi Jangan Meledak Duluan

Surti over percaya diri. Begitu masuk lift, langsung meledak tanpa investigasi. Pelajaran buat kita: tunggu sebentar, lihat dulu situasinya, baru bereaksi. Karena seringkali yang kita kira “masalah besar” ternyata cuma… lift.

 

Epilog: Dari Desa ke Dunia Konten

Setelah kejadian itu, Surti malah jadi terkenal. Video pendek dari CCTV hotel bocor ke media sosial (eh, jangan tanya legalitasnya ya...), dan akhirnya Surti diundang ke acara talkshow TV nasional untuk cerita soal pengalaman lucunya.

Judul acaranya? “Orang Desa Naik Level” – dan Surti tampil dengan gaun cantik, makeup cetar, dan gaya bicara khasnya.

Di akhir acara, dia ditanya, “Kalau sekarang disuruh masuk lift lagi, masih takut gak?”

Surti dengan senyum lebar menjawab:

“Enggak dong... sekarang aku udah tahu... itu cuma lift, bukan neraka.” 😂

 

Penutup

Surti adalah cermin banyak dari kita. Punya semangat besar, tapi belum paham dunia luar. Tapi justru dari salah paham, rasa malu, dan pengalaman konyol, kita tumbuh jadi orang yang lebih kuat — dan lebih siap menghadapi dunia modern, meski dari titik nol.

Jadi kalau kamu pernah malu, pernah salah tempat, salah ngomong, atau bahkan salah naik kendaraan, tenang aja...

Kamu masih lebih keren dari Surti yang ngamuk di lift.

 

Comments

Popular posts from this blog

"Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?

  "Konspirasi Konyol: Kenapa Orang Tua Selalu Bisa Menemukan Barang yang Kita Hilangkan?" Setting: Kamar seorang pemuda berantakan. Doni , mahasiswa malas, sedang mencari kunci motornya yang hilang. Ibunya, Bu Sri , berdiri di pintu dengan ekspresi tenang. Adegan 1: Barang Hilang, Panik Melanda ( Doni mengobrak-abrik seluruh kamar, celingak-celinguk ke bawah kasur, lemari, bahkan di dalam kulkas. ) Doni: (panik) "Astaga, kunci motor gue ke mana sih?! Udah gue cari di mana-mana!" Bu Sri: (sambil melipat tangan) "Udah dicari beneran belum? Jangan-jangan matanya aja yang nggak dipake." Doni: (kesal) "Iya, udah! Masa gue harus punya mata elang buat nemuin ini kunci?!" Bu Sri: (santai) "Sini, Ibu cariin." Adegan 2: Fenomena Orang Tua Detektor ( Bu Sri masuk ke kamar, membuka laci meja dengan tenang, lalu… mengambil kunci motor yang ada di sana. ) Bu Sri: (senyum kalem, sambil menunjukkan kunci) "Nih, ada di sini." ( Doni ...

Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata

  "Apakah Burung Merpati Adalah Robot Mata-Mata?" Setting: Sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Ujang dan Dodi , dua sahabat yang hobi teori konspirasi, sedang ngobrol serius sambil menyeruput kopi. Adegan 1: Teori Konspirasi Dimulai ( Ujang menatap burung merpati yang bertengger di atas kabel listrik. ) Ujang: (berbisik) "Dodi, lo sadar nggak? Itu burung merpati udah dari tadi di situ, nggak gerak-gerak." Dodi: (melirik santai, lalu ngunyah gorengan) "Terus kenapa?" Ujang: (mendekat, bisik-bisik dramatis) "Gue yakin, itu bukan burung biasa. Itu… robot mata-mata!" Dodi: (ketawa sambil hampir keselek gorengan) "Hah?! Lo becanda kan?" Ujang: (serius) "Serius! Lo pikir aja, pernah nggak lo liat anak burung merpati?" Dodi: (mikir keras, lalu kaget) "Eh, iya juga ya… Merpati mah tiba-tiba gede gitu aja!" Ujang: (mengangguk yakin) "Nah! Itu karena mereka bukan lahir dari telur… tapi pabrik! Me...

Panik di ATM

  "Panik di ATM" Setting: Sebuah ruangan ATM kecil di pinggir jalan. Pak Diran , pria paruh baya yang gagap teknologi, masuk ke dalam ATM dengan penuh percaya diri. Ia mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya, bersiap untuk tarik tunai. Adegan 1: Transaksi Dimulai ( Pak Diran memasukkan kartu ATM ke mesin dan mulai menekan tombol dengan serius. ) Pak Diran: (mumbling sambil baca layar) "Pilih bahasa… Indonesia, jelas lah! Masukkan PIN… Oke, 1-2-3-4…" (melirik ke belakang dengan curiga, takut ada yang ngintip) ( Setelah memasukkan PIN, ia memilih jumlah uang yang ingin ditarik. ) Pak Diran: "Satu juta? Wah, kayaknya kebanyakan… Lima ratus ribu aja deh… Eh, tapi cukup nggak ya buat seminggu?" (mikir lama banget, sampai orang di belakang mulai gelisah) Orang di Belakang: (batuk pura-pura, kode biar cepet) "Ehem." Pak Diran: (panik sendiri) "Iya, iya, sebentar!" (akhirnya neken tombol ‘Tarik 500.000’) Adegan 2: Kartu Hilang?! ( Mesin be...