SUDAH BANGUN, TAPI TIDUR LAGI! Kisah Heroik Seorang Pejuang Alarm yang
Selalu Kalah Sebelum Pertandingan Dimulai
Ada dua jenis manusia di dunia ini.
Pertama, orang yang mendengar alarm berbunyi lalu
langsung bangun dengan semangat menyambut hari baru.
Kedua, orang seperti Bagas.
Orang yang menganggap alarm hanyalah sebuah saran, bukan
perintah.
Jika Anda termasuk golongan kedua, mungkin Anda akan
merasa kisah ini terlalu dekat dengan kenyataan.
Bagas adalah pegawai kantoran yang memiliki hubungan
sangat rumit dengan alarm.
Setiap malam sebelum tidur, ia selalu membuat janji
besar kepada dirinya sendiri.
Bagas: "Besok saya bangun jam
lima."
Lalu ia memasang alarm.
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan tujuh alarm sekaligus.
05.00
05.05
05.10
05.15
05.20
05.25
05.30
Menurut teori Bagas, sebanyak apa pun rasa kantuknya,
tidak mungkin ia bisa mengalahkan tujuh alarm.
Sayangnya teori itu belum pernah berhasil dibuktikan.
Pagi hari pun tiba.
Alarm pertama berbunyi.
Tiiin! Tiiin! Tiiin!
Bagas membuka satu mata.
Menatap layar ponsel.
Lalu berkata pelan.
Bagas: "Masih terlalu pagi."
Ia menekan tombol tunda.
Kembali tidur.
Lima menit kemudian alarm kedua berbunyi.
Tiiin! Tiiin! Tiiin!
Bagas kembali membuka mata.
Kali ini ia bahkan sempat duduk.
Namun hanya beberapa detik.
Bagas: "Saya bangga sudah
bangun."
Lalu tidur lagi.
Alarm ketiga berbunyi.
Alarm keempat berbunyi.
Alarm kelima berbunyi.
Semuanya mengalami nasib yang sama.
Ditunda.
Diabaikan.
Dikhianati.
Suatu pagi, ibunya masuk ke kamar.
Ibu: "Bagas! Bangun!"
Bagas: "Sudah, Bu."
Ibu: "Kamu masih tidur."
Bagas: "Tapi niat saya sudah
bangun."
Ibu: "Yang dibutuhkan kantor itu
tubuhmu, bukan niatmu."
Di kantor, kebiasaan itu sudah menjadi legenda.
Temannya, Rian, sering bertanya.
Rian: "Kamu pasang berapa alarm
hari ini?"
Bagas: "Tujuh."
Rian: "Bangun alarm ke
berapa?"
Bagas: "Tidak tahu."
Rian: "Kenapa?"
Bagas: "Saya baru sadar setelah
alarm terakhir menyerah."
Karena sering terlambat, Bagas mulai mencari solusi.
Ia membaca artikel motivasi.
Menonton video produktivitas.
Mendengarkan podcast tentang disiplin.
Semua mengatakan hal yang sama:
Letakkan alarm jauh dari tempat tidur.
Bagas merasa menemukan jawaban hidup.
Malam itu ia meletakkan ponsel di atas lemari.
Jaraknya sekitar tiga meter dari kasur.
Pagi hari alarm berbunyi.
Tiiin! Tiiin! Tiiin!
Dengan mata tertutup, Bagas bangun.
Berjalan ke lemari.
Mematikan alarm.
Kemudian...
Kembali ke kasur.
Dan tidur lagi.
Saat menceritakan kejadian itu kepada Rian, temannya
tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
Rian: "Jadi kamu berhasil bangun?"
Bagas: "Ya."
Rian: "Lalu?"
Bagas: "Saya kembali tidur dengan
lebih profesional."
Bagas belum menyerah.
Ia membeli alarm baru.
Alarm mekanik yang suaranya sangat keras.
Menurut iklannya, alarm itu bisa membangunkan siapa
saja.
Bahkan mungkin tetangga.
Malam itu ia tidur dengan penuh harapan.
Pagi hari alarm berbunyi.
TRRRRIIIIINNNGGGG!!!
Suara alarm mengguncang kamar.
Ayahnya terbangun.
Ibunya terbangun.
Adiknya terbangun.
Kucing peliharaan terbangun.
Tetangga sebelah hampir ikut terbangun.
Bagas?
Masih tidur.
Saat sarapan, ayahnya menatap Bagas dengan heran.
Ayah: "Alarmmu luar biasa."
Bagas: "Efektif, kan?"
Ayah: "Efektif membangunkan
seluruh lingkungan kecuali pemiliknya."
Minggu berikutnya Bagas mencoba metode yang lebih
ekstrem.
Ia mengatur nada alarm menggunakan rekaman suara bosnya.
Malam sebelumnya ia merekam suara bos saat rapat.
Bos: "Bagas, mana
laporannya?"
Lalu menjadikannya nada alarm.
Pukul lima pagi alarm berbunyi.
"Bagas, mana laporannya?"
Bagas langsung duduk.
Jantungnya berdebar.
Matanya terbuka lebar.
Ia bahkan hampir berdiri tegak memberi hormat.
Bagas: "Laporan?!"
Beberapa detik kemudian ia sadar.
Itu hanya alarm.
Ia menghela napas lega.
Kemudian...
Tidur lagi.
Rian mulai frustrasi.
Rian: "Kamu ini manusia atau mode
hemat energi?"
Bagas: "Saya hanya menghargai
tidur."
Rian: "Berlebihan."
Bagas: "Tidur adalah
investasi."
Rian: "Investasi apa?"
Bagas: "Mimpi."
Suatu hari terjadi bencana kecil.
Bagas memiliki rapat penting pukul delapan pagi.
Ia memasang sembilan alarm sekaligus.
Bahkan ia meminta ibunya ikut membangunkannya.
Pagi hari semua alarm berbunyi sesuai jadwal.
Ibunya juga datang ke kamar.
Ibu: "Bangun!"
Bagas: "Iya."
Ibu: "Jangan tidur lagi."
Bagas: "Siap."
Sepuluh menit kemudian...
Bagas tidur lagi.
Ia baru benar-benar bangun pukul 08.20.
Panik luar biasa.
Ia melompat dari tempat tidur.
Mengenakan baju terbalik.
Memakai sandal berbeda warna.
Dan berlari keluar rumah.
Sesampainya di kantor, ia masuk ruang rapat dengan napas
tersengal-sengal.
Semua orang menatapnya.
Termasuk bos.
Bos: "Bagas."
Bagas: "Maaf, Pak."
Bos: "Alarm tidak bunyi?"
Bagas: "Bunyi, Pak."
Bos: "Lalu?"
Bagas: "Saya dan alarm memiliki
perbedaan pendapat."
Ruangan langsung tertawa.
Bahkan bosnya ikut tersenyum.
Sejak hari itu, Bagas mendapat julukan baru di kantor.
Sang Penakluk Alarm
Bukan karena ia berhasil bangun.
Melainkan karena tidak ada alarm yang berhasil
mengalahkannya.
Hingga sekarang kebiasaan itu masih ada.
Meski perlahan mulai membaik.
Namun setiap kali alarm berbunyi di pagi hari, selalu
terjadi perdebatan yang sama.
Di satu sisi ada suara tanggung jawab.
Di sisi lain ada suara kasur yang terasa lebih lembut
daripada awan.
Dan entah kenapa, kasur sering kali memiliki argumen
yang sangat meyakinkan.
Bagas akhirnya menyimpulkan satu hal penting.
Bangun pagi bukanlah pertarungan antara manusia dan
alarm.
Melainkan pertarungan antara niat dan bantal.
Dan dalam banyak kasus, bantal adalah lawan yang sangat
sulit dikalahkan.
Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda termasuk orang yang langsung bangun
saat alarm berbunyi, atau justru sering bernegosiasi dengan alarm hingga
akhirnya terlambat juga?
No comments:
Post a Comment