PENUMPANG SATU ANGKOT TERTAWA! Gara-Gara Satu Kesalahan Kecil, Perjalanan
Biasa Ini Berubah Jadi Kisah yang Tak Terlupakan
Bagi sebagian orang, naik angkutan umum adalah hal yang
biasa. Duduk, membayar ongkos, lalu turun di tujuan. Sederhana.
Namun tidak bagi Rendi.
Bagi pemuda berusia 24 tahun itu, satu perjalanan dengan
angkutan umum pernah berubah menjadi pengalaman memalukan yang masih menjadi
bahan lelucon teman-temannya hingga sekarang.
Semua bermula pada suatu pagi ketika Rendi terlambat
bangun.
Alarm sudah berbunyi berkali-kali, tetapi entah
bagaimana ia berhasil mematikannya dalam keadaan setengah sadar dan kembali
tidur.
Saat membuka mata, jarum jam sudah menunjukkan pukul
07.35.
Padahal pukul 08.00 ia harus menghadiri wawancara kerja.
"Astaga!" teriaknya sambil
melompat dari tempat tidur.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Rendi sudah
mandi, berpakaian rapi, menyisir rambut, dan berlari keluar rumah.
Sarapan?
Tidak sempat.
Minum kopi?
Lupakan.
Yang penting sampai tepat waktu.
Di pinggir jalan, sebuah angkot berhenti.
Rendi langsung naik.
Syukurlah masih ada kursi kosong di bagian tengah.
Ia duduk sambil menarik napas panjang.
Rendi: "Selamat. Misi pertama
berhasil."
Seorang bapak yang duduk di sampingnya hanya melirik
sekilas.
Karena terburu-buru sejak pagi, Rendi merasa sangat
lelah.
Udara sejuk dari jendela yang terbuka membuat matanya
mulai berat.
Awalnya ia hanya ingin memejamkan mata sebentar.
Hanya sebentar.
Sangat sebentar.
Seperti yang sering terjadi dalam sejarah umat manusia,
keputusan "sebentar" itu ternyata berakhir cukup panjang.
Beberapa menit kemudian, Rendi tertidur pulas.
Angkot terus berjalan.
Penumpang naik dan turun.
Kota semakin ramai.
Sementara Rendi masih tertidur dengan damai.
Masalah mulai muncul ketika angkot melewati jalan yang
berlubang.
Bruk!
Tubuh Rendi terayun ke samping.
Dan tanpa sadar, kepalanya bersandar tepat di bahu
seorang ibu yang baru naik beberapa menit sebelumnya.
Ibu itu terkejut.
Ia menoleh.
Melihat seorang pemuda asing tertidur nyenyak di
bahunya.
Ibu: "Nak..."
Tidak ada respons.
Ibu: "Nak!"
Masih tidak ada respons.
Rendi malah semakin nyaman.
Bahkan posisinya semakin miring.
Beberapa penumpang mulai memperhatikan.
Ada yang tersenyum.
Ada yang menahan tawa.
Ada pula yang diam-diam mengeluarkan ponsel, mungkin
untuk berjaga-jaga jika kejadian ini berkembang menjadi tontonan nasional.
Akhirnya ibu itu menepuk bahu Rendi.
Ibu: "Nak, bangun."
Rendi tersentak.
Ia membuka mata perlahan.
Lalu menyadari sesuatu.
Kepalanya sedang menempel di bahu seseorang.
Seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Rendi langsung melompat tegak.
Rendi: "Maaf, Bu! Maaf
sekali!"
Ibu: "Tidak apa-apa."
Rendi: "Saya benar-benar tidak
sengaja."
Ibu: "Saya tahu."
Rendi: "Saya malu sekali."
Ibu: "Saya juga."
Satu angkot langsung tertawa.
Wajah Rendi memerah seperti tomat matang.
Ia berpikir kejadian memalukan itu sudah cukup.
Ternyata belum.
Karena rasa gugup membuat pikirannya kacau.
Ketika kondektur datang meminta ongkos, Rendi malah
menyerahkan kartu identitas.
Kondektur: "Ini apa?"
Rendi: "Eh?"
Kondektur: "Saya minta ongkos,
bukan biodata."
Penumpang kembali tertawa.
Dengan panik, Rendi mengambil dompet.
Namun karena gugup, uang yang diberikan justru terlalu
banyak.
Kondektur: "Mas, ini ongkos
angkot, bukan beli angkotnya."
Gelombang tawa berikutnya kembali memenuhi kendaraan.
Rendi mulai berharap bisa menghilang.
Kalau ada tombol untuk berubah menjadi asap saat itu,
mungkin ia akan menekannya tanpa berpikir dua kali.
Beberapa menit kemudian ia melihat gedung tempat wawancara.
Karena takut terlambat, ia berdiri sebelum angkot
berhenti.
Lalu dengan percaya diri berteriak:
"Kiri, Bang!"
Masalahnya, ia berdiri terlalu cepat.
Saat angkot mengerem, keseimbangannya hilang.
Ia terdorong ke depan.
Untung tidak jatuh.
Namun tas yang dibawanya terlepas dan meluncur sampai ke
dekat sopir.
Sopir: "Tasnya mau turun duluan
ya?"
Tawa penumpang kembali pecah.
Dengan wajah yang semakin merah, Rendi mengambil tasnya.
Akhirnya angkot berhenti.
Ia turun secepat mungkin.
Namun baru beberapa langkah berjalan, terdengar suara
kondektur memanggil.
Kondektur: "Mas!"
Rendi menoleh.
Rendi: "Ya?"
Kondektur: "Helmnya
ketinggalan."
Rendi: "Saya tidak bawa
helm."
Kondektur: "Nah itu. Saya cuma
memastikan."
Satu angkot tertawa keras.
Bahkan sopir ikut tertawa sambil membunyikan klakson.
Rendi berjalan menuju gedung wawancara dengan kepala
tertunduk.
Ia merasa telah menjadi bintang komedi tanpa mendaftar
terlebih dahulu.
Namun bagian paling lucu baru terjadi beberapa minggu
kemudian.
Setelah diterima bekerja di perusahaan tersebut, ia
kembali naik angkot yang sama.
Saat masuk, kondektur langsung mengenalinya.
Kondektur: "Eh, ini yang tidur di
bahu penumpang!"
Penumpang lain menoleh.
Rendi langsung ingin turun lagi.
Sopir: "Sudah jangan malu. Duduk
saja."
Kondektur: "Tapi jangan
tidur."
Penumpang: "Dan jangan bayar pakai
KTP."
Seluruh isi angkot tertawa.
Sejak saat itu Rendi menjadi pelanggan tetap angkot
tersebut.
Bukan karena rutenya paling dekat.
Tetapi karena setiap kali naik, selalu ada cerita baru yang
muncul dari kejadian legendaris itu.
Bahkan suatu hari kondektur bercanda:
"Kalau Mas Rendi naik, perjalanan jadi
lebih menghibur."
Rendi hanya bisa tertawa pasrah.
Kini, setiap kali mengingat pengalaman itu, ia tidak
lagi merasa malu.
Justru ia bersyukur.
Karena dari kejadian tersebut ia belajar dua hal
penting.
Pertama, jangan begadang sebelum ada urusan penting.
Kedua, jika naik angkutan umum dalam keadaan mengantuk,
pastikan kepala tetap berada di wilayah kekuasaan sendiri.
Karena sekali salah sandar, satu kendaraan bisa mendapat
hiburan gratis sepanjang perjalanan.
Nah, bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda mengalami kejadian memalukan saat
naik angkutan umum yang membuat seluruh penumpang memperhatikan atau bahkan
tertawa?
No comments:
Post a Comment