Skip to main content

Posts

Kesalahan yang Menjadi Kebiasaan

Drama Kantor Sehari-hari: Kejutan Kecil dari Tono Tokoh-tokoh: Pak Budi - Bos yang sering bingung, tetapi baik hati. Rina - Sekretaris yang cerdas, tetapi terkadang suka lupa. Tono - Pegawai baru yang selalu ingin mencoba hal baru, tetapi sering salah. Dina - Rekan kerja yang selalu sibuk dan agak sarkastis. Setting: Ruang kantor dengan meja, kursi, komputer, dan telepon. Adegan 1: Di ruang kantor, Rina sedang sibuk mengetik sesuatu di komputer. Pak Budi masuk dengan tampang bingung, mencari sesuatu di kantong celananya. Pak Budi: (berbisik pada diri sendiri) "Mana kunci kantor, ya? Tadi kayaknya di sini deh." Rina: (melihat Pak Budi) "Pak Budi, ada yang bisa saya bantu?" Pak Budi: "Rina, kamu lihat kunci kantor nggak? Tadi kayaknya di saku saya." Rina: (berpikir) "Hmm, coba Bapak cek di meja kerja Bapak." Pak Budi: "Oh, iya, benar juga. Mungkin ketinggalan di sana." (keluar dari r...

Surat Cinta Tangan Pertama untuk Sri – Aco, 2006

  1. "Surat Cinta Tangan Pertama untuk Sri – Aco, 2006" Kepada Sri yang selalu bersinar di hatiku , Halo, Sri… Aku harap kamu baik-baik saja. Aku nulis surat ini sambil dengerin lagu  "Kangen"  nya Dewa 19. Tiba-tiba aja aku jadi pengen ngungkapin perasaan ini, walau aku nggak tau harus mulai dari mana. Aku masih inget pertama kali liat kamu di warung Bu Ani waktu kamu beli  Tango Wafer cokelat . Rambutmu yang panjang dikepang dua, baju seragam SMP biru putihmu yang agak kebesaran, dan senyummu yang bikin aku nggak bisa tidur semalaman. Sejak saat itu, aku selalu  "kebetulan"  lewat depan sekolahmu jam 2 siang, biar bisa liat kamu pulang. Kadang aku numpang beli es teh di warung deket gerbang sekolahmu, padahal nggak haus, cuma pengen liat kamu lewat. Aku nggak berani ngomong langsung, makanya aku nulis surat ini. Aku habisin 3 lembar kertas binder  Sinar Dunia  buat nulis draftnya. Yang pertama kepanjangan, yang kedua ada coretan tipe-x, yang...

Uang Sialan Papi: Cerita dari Keluarga Sakinah Mawaddah Wabah

1. Uang Sialan Papi: Cerita dari Keluarga Sakinah Mawaddah Wabah Pagi itu, burung belum sempat berkicau, ayam masih malas berkokok, tapi rumah kecil di pojokan kompleks itu sudah bergemuruh. " Papi... uang THR ta mana pi??? " suara Mami menggema sampai ke kamar belakang, mengalahkan volume iklan skincare Korea di televisi. Papi, lelaki berumur empat puluhan yang duduk manis di kursi malas dengan handuk melilit leher, mendongak pelan, berusaha tidak panik. Tapi dari gerak bibirnya yang berkedut, bisa ditebak: jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. “ Kan udah saya kasih kemarin sore, ama Mami… ” jawab Papi dengan suara selembut tisu toilet dua lapis. Dia masih berharap pagi ini berjalan damai. Mami menyipitkan mata. Dalam dunia perumah-tanggaan, mata sipit Mami itu setara dengan "peringatan dini" dari BMKG. Kalau tak hati-hati, bisa jadi badai rumah tangga. “ Ohh… yang itu? ” kata Mami sambil melipat tangan di dada. “ Terus, kalau uang di amplop papi it...

Ketahuan Ketiduran di Tengah Ritual Mistis

 1. Ketahuan Ketiduran di Tengah Ritual Mistis Narator:  Suasana malam itu begitu mencekam. Angin berhembus pelan, daun-daun bergesekan, dan bulan purnama bersinar terang. Di tengah lapangan desa, beberapa orang berkumpul dalam lingkaran. Mereka sedang melakukan ritual mistis untuk memohon keselamatan desa. Pak Mamat:  (berdiri di tengah lingkaran dengan wajah serius) "Saudara-saudara, malam ini kita harus fokus! Jangan sampai ada yang lengah. Ritual ini sangat penting untuk keselamatan desa kita." Bu Inah:  (mengangguk penuh semangat) "Betul, Pak Mamat. Kalau sampai salah, kita bisa kena sial!" Narator:  Semua orang mulai duduk bersila. Lilin-lilin dinyalakan, dan mantra-mantra mulai dilantunkan. Suasana semakin hening dan khusyuk... kecuali di satu sudut, di mana Pak Joko mulai menguap. Pak Joko:  (berbisik ke sebelahnya, Pak Udin) "Din, ini lama banget ya? Perutku udah laper." Pak Udin:  (mendesah) "Sstt! Jangan berisik! Pak Mamat bisa marah kalau ...