Remote TV Hilang Lagi! Ternyata Musuh Terbesar Keluarga Bukan
Tagihan, tapi Tombol Channel
Kalau ada benda kecil yang mampu memicu perang saudara di dalam rumah,
jawabannya bukan warisan.
Bukan juga uang jajan.
Melainkan... remote televisi.
Anehnya, harga remote tidak seberapa.
Tapi nilainya di dalam keluarga bisa mengalahkan emas.
Di rumah kami, remote TV bukan sekadar alat.
Ia adalah simbol kekuasaan.
Siapa yang memegang remote, dialah penguasa ruang tamu.
Perang biasanya dimulai setelah makan malam.
Ayah baru selesai mandi.
Ibu selesai membereskan dapur.
Saya dan adik sudah duduk manis di depan televisi.
Acara kartun sedang seru-serunya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki Ayah.
"Geser sedikit."
Kami bergeser.
Ayah duduk.
Lalu dengan gerakan yang sudah terlatih, Ayah mengambil remote.
Klik.
Kartun hilang.
Berita muncul.
Saya protes.
"Yah! Lagi seru!"
Ayah menjawab santai.
"Ini juga seru."
"Berita kok seru?"
"Iya. Soalnya besok bisa jadi cerita."
Saya melihat adik.
Adik melihat saya.
Kami kalah.
Lima belas menit kemudian, Ibu datang.
"Apa ini?"
"Berita."
Ibu menggeleng.
"Ganti sebentar."
Klik.
Berita hilang.
Sinetron muncul.
Ayah langsung protes.
"Lho!"
Ibu santai.
"Tadi sudah nonton."
Ayah membela diri.
"Belum selesai."
Ibu menjawab singkat.
"Nanti juga ada berita lagi."
Ayah diam.
Saya kagum.
Ternyata ada orang yang lebih kuat daripada Ayah.
Adik punya strategi berbeda.
Dia tidak merebut remote.
Dia menyembunyikannya.
Suatu hari remote hilang.
Semua mencari.
Ayah melihat meja.
Enggak ada.
Ibu mencari di sofa.
Enggak ada.
Saya mengangkat bantal.
Kosong.
Ayah mulai bertanya.
"Siapa yang terakhir pegang?"
Semua menunjuk adik.
Adik panik.
"Bukan aku!"
"Lalu siapa?"
"Mungkin remotenya jalan-jalan."
Ayah mengangguk pelan.
"Kalau begitu, nanti uang jajannya juga jalan-jalan."
Adik langsung mengaku.
"Ada di bawah karpet."
Kasus selesai.
Yang paling aneh adalah kebiasaan Ayah.
Setelah menonton, remote tidak pernah dikembalikan ke tempatnya.
Kadang di meja.
Kadang di dapur.
Kadang di kamar.
Pernah suatu hari kami mencari remote hampir satu jam.
Akhirnya ketemu.
Di kulkas.
Saya bingung.
"Yah..."
"Iya?"
"Kenapa remote ada di kulkas?"
Ayah berpikir.
"Oh..."
"Oh apa?"
"Mungkin tadi Ayah ambil minum."
"Lalu?"
"Yang masuk remote."
Saya tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Ibu juga tidak kalah unik.
Saat menonton sinetron, tidak boleh ada yang mengganti channel.
Saya pernah mencoba.
Klik.
Belum sempat gambar berubah.
Ibu langsung berkata,
"Balikin."
Saya kaget.
"Ibu lihat?"
"Enggak."
"Kok tahu?"
"Ibu punya insting."
Saya percaya.
Sejak itu saya tidak pernah berani lagi.
Suatu sore listrik padam.
Kami semua duduk di ruang tamu.
Ayah melihat remote.
Menekan tombol.
Tidak ada reaksi.
Menekan lagi.
Tetap tidak ada.
Saya berkata,
"Yah, listrik mati."
Ayah diam.
Menekan sekali lagi.
Saya heran.
"Yah, buat apa?"
"Siapa tahu nyala."
Ibu tertawa.
"Itu namanya berharap."
Pernah juga baterai remote habis.
Ayah punya cara khusus.
Baterainya dilepas.
Ditiup.
Dipukul pelan.
Dipasang lagi.
Ajaibnya...
Remote hidup.
Saya kagum.
"Yah, kok bisa?"
"Itu teknik."
"Sains?"
"Enggak."
"Terus?"
"Tradisi."
Saya tidak berani membantah.
Karena memang berhasil.
Masalah lain muncul ketika semua orang ingin menonton acara berbeda.
Saya ingin pertandingan sepak bola.
Adik ingin kartun.
Ibu ingin acara memasak.
Ayah ingin berita.
Diskusi dimulai.
"Saya dulu."
"Enggak, saya."
"Tadi sudah."
"Belum."
Akhirnya Ayah berkata,
"Sudah."
Semua diam.
"Kita lihat acara dokumenter."
Kami semua kecewa.
Tidak ada yang menang.
Pernah suatu malam remote benar-benar hilang.
Satu rumah panik.
Ayah berkata,
"Cari!"
Kami mencari ke mana-mana.
Di bawah sofa.
Di atas lemari.
Di dapur.
Di kamar.
Tidak ada.
Ibu mulai curiga.
"Pak, jangan-jangan Bapak yang simpan."
Ayah tersinggung.
"Enggak."
Saya ikut mencari.
Akhirnya saya melihat sesuatu.
Remote itu ada di tangan Ayah.
"Yah..."
"Iya?"
"Itu apa?"
Ayah melihat tangannya.
"Oh."
"Itu remote."
"Iya."
"Kok dicari?"
Ayah tersenyum malu.
"Ayah kira HP."
Kami semua tertawa.
Ibu sampai duduk karena tidak kuat menahan tawa.
Yang paling lucu adalah saat tamu datang.
Remote yang biasanya diperebutkan mendadak tidak penting.
Semua duduk rapi.
Mengobrol sopan.
Begitu tamu pulang...
Ayah langsung bertanya,
"Remotenya mana?"
Saya tertawa.
"Tadi katanya enggak nonton."
"Itu tadi."
"Sekarang?"
"Sekarang waktunya."
Suatu hari saya bertanya kepada Ayah,
"Yah, kenapa sih remote selalu jadi rebutan?"
Ayah berpikir.
"Karena itu soal hak."
"Hak apa?"
"Hak memilih."
Ibu ikut menyela.
"Yang memilih tetap saya."
Ayah tertawa.
"Kalau begitu saya mengalah."
Saya heran.
"Yah, kok cepat mengalah?"
Ayah berbisik,
"Itu strategi."
"Strategi apa?"
"Kalau Ibu senang, nanti kita bisa nonton lebih lama."
Saya mengangguk.
Ilmu rumah tangga ternyata rumit.
Malam itu kami berkumpul lagi di ruang tamu.
Televisi menyala.
Ayah memegang remote.
Ibu mengambil remote.
Adik mencoba merebut.
Saya hanya melihat.
Lalu tiba-tiba televisi mati.
Kami semua panik.
"Lho!"
"Apa yang terjadi?"
Saya melihat colokan.
Ternyata kabelnya lepas.
Kami saling memandang.
Lalu tertawa bersama.
Akhirnya, setelah memasang kembali kabelnya, Ayah menyerahkan remote kepada
Ibu.
Ibu menyerahkan kepada adik.
Adik menyerahkan kepada saya.
Saya bingung.
"Lho?"
Ayah tersenyum.
"Hari ini kamu yang pilih."
Saya senang sekali.
Dengan bangga saya menekan tombol.
Televisi berpindah ke acara memasak.
Semua tertawa.
"Lho, kok itu?"
Saya melihat layar.
Ternyata saya salah pencet.
Remote direbut lagi.
Dan perang pun dimulai dari awal.
Sejak saat itu saya sadar, di setiap keluarga pasti ada satu benda kecil
yang mampu menyatukan sekaligus memecah belah suasana.
Remote TV.
Ia bisa hilang tanpa jejak.
Bisa ditemukan di kulkas.
Bisa dicari padahal ada di tangan sendiri.
Dan entah bagaimana, selalu menjadi pusat perebutan setiap malam.
Tapi mungkin justru itulah yang membuat ruang tamu terasa hidup.
Ada Ayah yang tidak mau ketinggalan berita.
Ada Ibu yang setia pada sinetron.
Ada adik yang memperjuangkan kartun.
Dan ada saya yang diam-diam berharap semua cepat selesai supaya bisa
menonton acara favorit.
Walaupun, sampai hari ini, saya masih yakin bahwa remote TV di rumah
sebenarnya punya kaki sendiri.
Karena tidak mungkin benda sekecil itu bisa berpindah tempat sejauh itu
tanpa bantuan siapa pun.
Kalau di rumah Anda, siapa penguasa remote TV yang paling sulit
dikalahkan, dan remote paling aneh pernah ditemukan di mana?