Sunday, June 28, 2026

“Nama Kami Lima Orang, yang Kerja Cuma Satu!” — Drama Tugas Kelompok yang Selalu Terulang Setiap Semester

 

“Nama Kami Lima Orang, yang Kerja Cuma Satu!” — Drama Tugas Kelompok yang Selalu Terulang Setiap Semester

Jika ada satu misteri terbesar dalam dunia pendidikan yang hingga kini belum berhasil dipecahkan para ilmuwan, mungkin itu adalah pertanyaan berikut:

Mengapa tugas kelompok yang beranggotakan lima orang sering kali dikerjakan oleh satu orang saja?

Fenomena ini begitu umum hingga hampir setiap siswa dan mahasiswa pernah mengalaminya. Bahkan ada yang mengalaminya berkali-kali sampai merasa dirinya bukan lagi anggota kelompok, melainkan perusahaan outsourcing akademik.

Cerita ini bermula ketika dosen mata kuliah Manajemen Pendidikan memberikan sebuah tugas kelompok.

“Baik, tugas ini dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima orang.”

Kalimat itu langsung disambut berbagai reaksi.

Ada yang senang.

Ada yang panik.

Ada pula yang mulai menghitung kemungkinan menjadi korban tugas kelompok.

Salah satu kelompok terdiri atas Andi, Budi, Rina, Siska, dan Joko.

Awalnya mereka tampak kompak.

Setidaknya selama lima menit pertama.

 

Pembagian Tugas yang Sangat Optimis

Setelah kuliah selesai, mereka berkumpul di kantin.

Andi membuka diskusi.

“Oke teman-teman, kita bagi tugas supaya adil.”

“Setuju,” jawab semuanya.

Andi mulai menulis.

“Rina mengerjakan pendahuluan.”

“Siap.”

“Siska mengerjakan landasan teori.”

“Siap.”

“Budi bagian pembahasan.”

“Siap.”

“Joko bagian kesimpulan.”

“Siap.”

“Kalau begitu saya menyusun semuanya.”

Semua mengangguk penuh semangat.

Kelompok tampak solid.

Mereka bahkan sempat berfoto bersama untuk dikirim ke grup.

Saat itu belum ada yang tahu bahwa foto tersebut adalah dokumentasi terakhir kebersamaan mereka sebagai tim yang aktif.

 

Hari Pertama: Semangat Masih Tinggi

Di grup WhatsApp kelompok, pesan terus berdatangan.

Andi: Teman-teman jangan lupa tugasnya ya.

Rina: Siap.

Siska: Oke.

Budi: Aman.

Joko: Siap komandan.

Andi tersenyum puas.

“Kelompok ini menjanjikan,” pikirnya.

Ia belum tahu bahwa kata “siap” belum tentu berarti “dikerjakan.”

 

Hari Ketiga: Mulai Ada Gejala

Andi mengirim pesan lagi.

Andi: Sudah sampai mana tugasnya?

Lima menit.

Sepuluh menit.

Satu jam.

Tidak ada balasan.

Akhirnya muncul pesan dari Budi.

Budi: Maaf baru lihat.

Andi: Sudah selesai?

Budi: Belum.

Andi: Kenapa?

Budi: Sedang mencari inspirasi.

Andi mengangguk pelan.

Padahal semua orang tahu bahwa “mencari inspirasi” sering kali berarti “belum mulai.”

 

Hari Kelima: Anggota Mulai Menghilang

Batas pengumpulan tinggal tiga hari.

Andi kembali bertanya.

Andi: Bagaimana progresnya?

Rina menjawab.

Rina: Laptop saya bermasalah.

Siska menjawab.

Siska: Saya sedang banyak kegiatan.

Budi menjawab.

Budi: Saya masih mengumpulkan referensi.

Joko tidak menjawab sama sekali.

Status WhatsApp-nya aktif.

Tetapi pesannya tidak dibaca.

Fenomena ini dikenal sebagai:

Online tetapi tidak tersedia untuk urusan akademik.

 

Hari Ketujuh: Kepanikan Nasional

Dua hari sebelum deadline.

Andi mulai gelisah.

Ia menghubungi Joko secara pribadi.

“Halo, tugasnya sudah dikerjakan?”

Balasan datang tiga jam kemudian.

“Bagian yang mana?”

Andi memejamkan mata.

“Kesimpulan.”

“Oh iya.”

“Sudah?”

“Belum.”

“Kapan dikerjakan?”

“Segera.”

Kata “segera” dalam dunia tugas kelompok memiliki rentang waktu yang sangat fleksibel.

Bisa satu jam.

Bisa satu minggu.

Bisa juga tidak pernah.

 

Malam Terakhir

Inilah saat yang menentukan.

Pukul 20.00.

Deadline tinggal beberapa jam lagi.

Andi membuka grup.

Andi: Tolong kirim semua bagian sekarang.

Rina mengirim satu file.

Isinya setengah halaman.

Siska mengirim file lain.

Isinya dua paragraf.

Budi mengirim pesan.

“Maaf, laptop saya error.”

Joko mengirim stiker jempol.

Tidak ada file.

Tidak ada kesimpulan.

Hanya stiker.

Andi mulai mempertanyakan pilihan hidupnya.

 

Kelahiran Pekerja Tunggal

Pukul 21.00.

Andi menyadari kenyataan pahit.

Jika menunggu teman-temannya, tugas tidak akan selesai.

Maka dimulailah ritual yang sudah dialami jutaan mahasiswa sejak zaman dahulu.

Mengerjakan seluruh tugas kelompok sendirian.

Andi mengetik pendahuluan.

Menyusun teori.

Menulis pembahasan.

Membuat kesimpulan.

Memeriksa referensi.

Merapikan format.

Mengatur daftar pustaka.

Sementara itu anggota lain terlihat sangat aktif.

Aktif tidur.

 

Pagi Hari yang Menentukan

Keesokan paginya tugas berhasil dikumpulkan.

Andi datang ke kelas dengan mata panda.

Ia tampak seperti baru menyelesaikan pembangunan jalan tol sendirian.

Tiba-tiba Budi datang.

“Sudah dikumpulkan?”

“Sudah.”

“Bagus.”

“...”

“Terima kasih ya.”

Andi hanya tersenyum tipis.

Senyum yang menyimpan seribu penderitaan.

 

Saat Presentasi Kelompok

Seminggu kemudian kelompok mereka mendapat giliran presentasi.

Dosen berkata,

“Silakan jelaskan isi makalah kalian.”

Andi mulai menjelaskan.

Semuanya berjalan lancar.

Lalu dosen bertanya kepada Joko.

“Bagian kesimpulan menjelaskan apa?”

Joko membeku.

“Eh...”

“Ya?”

“Kesimpulan itu... menyimpulkan, Pak.”

Kelas mulai tertawa.

Dosen beralih ke Budi.

“Pembahasan utamanya apa?”

Budi menjawab,

“Menurut saya pembahasannya sangat baik, Pak.”

“Kenapa?”

“Karena Andi yang menulis.”

Seluruh kelas langsung pecah.

Andi menutup wajahnya dengan buku.

 

Pengakuan yang Mengejutkan

Setelah presentasi selesai, dosen memanggil kelompok itu.

“Saya ingin bertanya dengan jujur.”

Mereka mengangguk.

“Siapa yang sebenarnya mengerjakan tugas ini?”

Ruangan hening.

Semua saling menatap.

Lalu tanpa komando, empat orang serempak menunjuk Andi.

“Dia, Pak.”

Andi hampir tersedak.

Dosen tertawa.

“Saya sudah menduga.”

 

Tradisi Akademik yang Sulit Punah

Tugas kelompok sebenarnya dibuat untuk melatih kerja sama.

Namun dalam praktiknya, sering kali berubah menjadi kisah perjuangan satu orang yang mengerjakan semuanya, sementara anggota lain berkontribusi melalui doa, stiker WhatsApp, dan janji-janji yang tidak pernah terwujud.

Anehnya, kisah seperti ini terus berulang setiap semester.

Selalu ada Andi baru.

Selalu ada Budi yang masih mencari inspirasi.

Selalu ada Joko yang menghilang saat dibutuhkan.

Dan selalu ada grup WhatsApp yang tiba-tiba ramai beberapa jam sebelum deadline.

Mungkin itulah siklus alami dunia pendidikan.

Sebuah drama yang membuat kesal saat dijalani, tetapi lucu ketika dikenang.

Karena pada akhirnya, hampir semua orang pernah berada di salah satu posisi tersebut.

Entah sebagai pekerja utama, anggota yang menghilang, atau ahli mengirim stiker jempol saat tugas sudah selesai.

Nah, bagaimana dengan Anda? Dalam tugas kelompok, biasanya Anda lebih sering menjadi “Andi” yang mengerjakan semuanya, atau pernah punya pengalaman lucu dengan anggota kelompok yang mendadak menghilang saat deadline mendekat? πŸ˜„πŸ“šπŸ‘₯

 

No comments:

Post a Comment