Skip to main content

Posts

Bu Guru, Udin, dan Sebuah Cinta yang Tidak pada Tempatnya

Bu Guru, Udin, dan Sebuah Cinta yang Tidak pada Tempatnya Pagi itu suasana kelas seperti biasa. Anak-anak masih setengah sadar, ada yang baru bangun lima menit sebelum berangkat sekolah, ada juga yang datang ke sekolah bukan karena semangat belajar, tapi karena kuota internet di rumah habis. Tiba-tiba suara langkah sepatu Bu Guru terdengar dari koridor. Semua langsung pasang mode malaikat. Yang tadinya main game, langsung geser layar ke Google Classroom. Yang tidur-tiduran di bangku, langsung tegak kayak pasukan upacara. Tapi ada satu orang yang tetap santai: Udin. Udin memang beda. Kalau yang lain panik saat ada ulangan mendadak, dia malah senyum dan tanya, “Boleh open book, Bu?” Seolah-olah semua soal bisa dijawab kalau kitab suci pelajaran dibuka. Udin ini seperti makhluk mitos di kelas: eksis tapi misterius. Dan pagi itu, seperti sudah jadi takdir hidupnya, namanya disebut. "Udin… mana tugasmu? Kumpulin ke depan," kata Bu Guru dengan suara khas ibu-ibu yang sud...

Udin, Pedang, dan Tugas Suci Melindungi Bu Guru

  Udin, Pedang, dan Tugas Suci Melindungi Bu Guru Pagi yang biasanya tenang berubah menjadi penuh kejutan di kelas 9B. Matahari baru saja nongol malu-malu di balik awan, dan suara burung berkicau terdengar samar—seolah memberi backsound dramatis untuk kejadian luar biasa yang akan terjadi. Anak-anak di kelas sudah duduk manis, sebagian masih ngantuk, sebagian lagi sibuk menghafal materi 5 menit sebelum ulangan. Tapi di pojokan, seperti biasa, ada Udin. Si Udin ini memang langganan bikin kejutan. Kalau kelas adalah sinetron, dia itu pemeran utama sekaligus penulis naskah dadakan. Dan hari itu, dengan percaya diri penuh, ia membawa benda yang bikin semua mata membelalak. "Udin, tugas kamu sini. Bawa ke depan," kata Bu Guru dengan nada standar. "Ini Bu," jawab Udin sambil maju pelan, lalu nyodorin pedang. Yes, PEDANG. Bukan buku tugas, bukan lembar kerja siswa, tapi sebilah benda yang ujungnya mengkilat dan bikin siapa pun pengen tiarap kalau lihat. ...

Sule, Bajaj, dan Samsung Tablet – Ketika Cinta Ayah Bertemu Realita Dompet

Hidup sebagai sopir bajaj di Jakarta itu bukan perkara gampang. Udah panas-panasan, macet-macetan, kadang dapat penumpang yang ogah bayar, belum lagi kalo mogok di tengah jalan — itu rasanya udah kayak ujian nasional dalam hidup, tapi versi harian. Nah, di tengah kerasnya hidup itulah tinggal seorang lelaki sederhana nan legendaris bernama Sule . Dia bukan pelawak kondang yang sering muncul di TV, tapi ayah pekerja keras dengan gaya bicara lucu bawaan lahir . Bajajnya boleh butut, tapi cintanya ke keluarga selalu full power .   Pulang Narik, Disambut Permintaan Sore itu, Sule baru aja pulang narik dari rute Blok M – Tanah Abang – Puter balik lagi ke Blok M , dan bajajnya berasa udah teriak minta istirahat. Bajunya basah keringat, kepalanya gatel karena helm yang kebesaran, dan dompetnya… ya seperti biasa, kempes kayak ban bocor . Tapi belum juga sempat narik napas panjang di teras rumah, dia langsung disambut anak semata wayangnya: Kiki . Kiki: “Bapaaak… beliin Samsung...

Sule vs Bu Guru – Adu Logika Ala Anak SD

Di sebuah sekolah dasar yang tak terlalu besar tapi penuh cerita seru, duduklah seorang bocah laki-laki dengan rambut acak-acakan, baju sedikit keluar dari celana, dan ekspresi wajah yang selalu siap menjawab dengan cara... tak terduga. Dialah Sule , murid kelas 4 SD yang terkenal bukan karena nilai matematikanya, tapi karena logika-logikanya yang kadang nyeleneh tapi... masuk akal juga kalau dipikir-pikir.   Babak 1: 5 Burung dan 1 Tembakan Hari itu, suasana kelas hening. Ibu guru Bu Fanny sedang menjelaskan pelajaran logika. Di tangannya ada spidol, dan di papan tulis tergambar lima burung kecil di atas kabel listrik. Bu Fanny: “Sule... coba kamu jawab ya. Ada 5 burung sedang mencari makan di tiang listrik . Kalau salah satunya ditembak pemburu , tinggal berapa?” Sule: (mengernyitkan dahi, serius kayak mau ujian CPNS) “Ehm... kayaknya nggak ada yang tersisa, Bu.” Bu Fanny: “Lho? Kenapa begitu?” Sule: “Soalnya, Bu... burung yang lain pasti kaget dan langsung ...

Anak Ngadu Dibilang ‘Homo’, Bapak Suruh Tonjok… Eh Ternyata Si Penghina Ganteng Banget! (Plot Twist Ending)"

  "Anak Ngadu Dibilang ‘Homo’, Bapak Suruh Tonjok… Eh Ternyata Si Penghina Ganteng Banget! (Plot Twist Ending)" Hari itu, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, terjadi percakapan antara seorang bapak dan anaknya yang baru pulang sekolah. Si anak—sebut saja namanya Deni—masuk dengan wajah kecut kayak abis makan permen asam. Langsung deh dia ngadu ke bapaknya yang lagi asik nonton bola sambil minum kopi. Deni :  "Pih… papih… ada yang ngatain saya homo di sekolah, pih…" Sruput kopi berhenti mendadak. Bapak :  "APA?! SIAPA YANG BERANI?!"  (langsung emosi, remote TV dilempar ke sofa) Deni :  "Temen sekelas, pih…" Bapak :  "ELO TONJOK AJA TUH ORANG, NAK!"  (sambil ngebacok-bacok tangan di udara, kayak lagi latihan tinju) Deni :  "Ga bisa, pih…" Bapak :  "KENAPA GA BISA? LU TAKUT ATO GIMANA?!"  (suara mulai tinggi, tetangga sebelah mungkin udah ngerasain geterannya) Deni :  "Dia… dia ganteng ba...