Smesh Maut Bu Tejo: Ketika Gengsi Antar RT Dipertaruhkan di Atas Garis Net
Bagi masyarakat Indonesia, turnamen olahraga antar RT dalam rangka perayaan
agustusan atau hari jadi desa bukan sekadar ajang cari keringat. Ini adalah
ajang pertaruhan harga diri, martabat, dan gengsi keluarga hingga tujuh
turunan. Kalah dalam pemilihan Ketua RT itu biasa, tapi kalah dalam
pertandingan voli melawan RT sebelah? Itu adalah aib yang bikin Anda malas
keluar rumah untuk beli tabung gas selama tiga bulan ke depan.
Mari kita berkunjung ke lapangan voli serbaguna Desa Sukamaju, di mana
partai final legendaris antara RT 03 (Sang Petahana) melawan RT 04 (Kuda Hitam)
sedang berlangsung. Pertandingan ini tidak melibatkan atlet profesional,
melainkan barisan emak-emak bersenjatakan daster yang diikat ke pinggang,
bapak-bapak dengan pinggang encok, dan taktik perang yang lebih rumit daripada
strategi militer.
SET PERTAMA: PERANG URAT SARAF DI PINGGIR LAPANGAN
Karakter:
·
Pak Bambang (48 tahun): Pelatih RT 03.
Tipe pelatih yang teoritis, bawa papan strategi, tapi gak bisa praktik.
·
Bu Tejo (42 tahun): Kapten tim RT 03.
Tinggi, galak, dan memiliki pukulan smesh yang ditakuti karena sering
mengenai wajah lawan, bukan lapangan.
·
Gatot (23 tahun): Pemuda RT 03, bertugas
sebagai setter (pengumpan) yang selalu salah fokus kalau ada cewek lewat
di pinggir lapangan.
·
Pak RT Edi (50 tahun): Manajer tim
sekaligus penyandang dana utama (pembeli es teh manis).
(Latar: Lapangan voli tanah liat yang garisnya dibuat dari taburan kapur
bangunan. Penonton penuh sesak di pinggir lapangan, membawa ember, panci, dan
peluit parkir. Skor saat ini 24-24, deuce di set penentuan).
Pak Bambang: (Berteriak histeris di pinggir lapangan sambil
memukul-mukul papan klip) "Gatot! Kamu dengar instruksi saya gak?!
Jangan kasih bola melambung ke kanan! Di sana ada Bu Lastri dari RT 04, dia
jago nge-blok karena biasa nge-blok jalanan kalau ada hajatan! Kasih bola
pendek ke Bu Tejo!"
Gatot: (Nengahos, menyeka keringat pakai kaos) "Aduh,
Pak! Gimana mau fokus, bola dari tadi licin kena minyak goreng! Itu tangan Bu
Tejo habis goreng pisang buat suaminya langsung masuk lapangan, gak cuci tangan
dulu!"
Bu Tejo: (Melotot sambil berkacak pinggang, dasternya ditali mati
di paha) "Heh, Gatot! Banyak alasan kamu ya! Umpan aja yang bener!
Pokoknya set ini kita harus menang. Saya udah telanjur taruhan sama Bu RT 04.
Kalau kita kalah, arisan bulan depan saya yang bayarin iurannya!"
Pak RT Edi: (Datang membawa kresek berisi es teh)
"Ayo-ayo, minum dulu. Tolong ya semuanya, harga diri RT 03 ada di tangan
kalian. Kalau kita kalah lagi tahun ini, saya malas ikut rapat pleno di balai
desa. Diledek terus sama Ketua RT 04 yang sok tahu itu!"
DETIK-DETIK SMESH MAUT DAN DRAMA VAR KAMPUNG
(Peluit wasit berbunyi. Pertandingan dimulai kembali. Bola diservis oleh
tim RT 04. Bola melambung tinggi, melewati net dengan kecepatan sedang).
Bu Tejo: "GATOOOT!!! AMBIL BOLA!!! UMPAAAN!!!"
Gatot: "Siap, Bu! Ini umpan cantik selembut sutra!" (Gatot
melompat, memberikan umpan lambung yang pas di depan net).
Bu Tejo: (Mengambil ancang-ancang, matanya berapi-api, melompat
setinggi tiga puluh sentimeter dari permukaan tanah) "TERIMALAH SMESH
PARALISIS LAMBUNGGG!!!"
DUAAAK!
(Bola dipukul dengan kekuatan penuh oleh Bu Tejo. Saking kerasnya, arah
bola tidak menuju ke lapangan lawan, melainkan melesat horizontal menembus
pertahanan net dan mendarat tepat di atas jidat Pak RT Edi yang sedang asyik
meminum es teh di pinggir lapangan).
PLOP! CRASH!
Pak RT Edi: "Aduuuh! Gusti Allah... daster siapa ini
melayang..." (Pak RT Edi langsung limbung dan jatuh telentang di atas
rumput, wajahnya basah kuyup terkena tumpahan es teh).
Pak Bambang: "Pak RT!!! Wah, parah ini! Wasit! Pelanggaran! Tim
lawan melakukan provokasi batin!"
Wasit (Mas Totok): "Lho, yang mukul kan Bu Tejo, Pak! Bola
keluar! Poin untuk RT 04! RT 04 menang!"
Bu Tejo: "Tunggu dulu, Mas Totok! Gak bisa gitu! Itu tadi
bolanya belum menyentuh tanah, tapi menyentuh jidat Pak RT dulu! Berarti bola
masih aktif! Saya minta VAR! Video Assistant Referee!"
Wasit: "VAR apaan, Bu? Kita gak punya kamera!"
Bu Tejo: "Itu si Dono dari tadi bikin video TikTok di pojokan!
Ayo kita cek HP si Dono!"
REKONSILIASI DI WARUNG GORENGAN
(Seluruh pemain dari kedua RT, termasuk penonton, langsung mengerumuni
Dono yang memegang HP-nya. Mereka menonton rekaman video dengan mode
slow-motion manual, yaitu dengan cara Dono menggeser garis durasi video pakai
jempolnya pelan-pelan).
Pak Bambang: "Nah, lihat itu! Pas bola kena jidat Pak RT, kaki
Pak RT masih berada di dalam garis lapangan! Berarti Pak RT dihitung sebagai
tiang net hidup! Pertandingan harus diulang!"
Bu RT 04 (dari seberang net): "Eh, gak bisa! Mana ada aturan
voli pakai tiang net hidup! Lagian itu Pak RT pingsan karena kena smesh
kaptenmu sendiri, kok kita yang disalahin? Ngaku kalah aja kenapa sih,
Jeng?"
Bu Tejo: "Siapa yang kalah? Sini maju kalau berani! Kita tanding
satu lawan satu tanpa net!"
(Sebelum keributan antar emak-emak berskala regional itu pecah, Pak RT
Edi tiba-tiba sadar sambil memegangi jidatnya yang mulai benjol sebesar telur
puyuh).
Pak RT Edi: "Sudah... sudah... stop! Saya sebagai manajer
sekaligus korban kekerasan dalam olahraga... menyatakan RT 03 mengundurkan
diri. Saya mau pulang, mau kompres jidat pakai es batu."
Bu Tejo: (Lemas) "Aduh, Pak RT... maaf ya. Saya tadi
niatnya mau nyasar muka Bu RT 04, kok malah jidat Bapak yang kena."
Pak RT Edi: "Pukulanmu itu, Bu... kalau dijual ke marinir bisa
dipakai buat nge-bom kapal asing. Keras banget!"
KESIMPULAN: YANG PENTING GORENGANNYA
Meskipun RT 03 akhirnya harus puas menjadi juara kedua (baca: kalah), drama
turnamen voli hari itu ditutup dengan damai. Kedua RT akhirnya sepakat untuk
melakukan rekonsiliasi nasional di warung gorengan belakang lapangan. Biaya
taruhan arisan Bu Tejo pun diputihkan, diganti dengan tugas Bu Tejo harus
menggoreng pisang untuk seluruh warga RT 04 selama tiga hari berturut-turut.
Itulah indahnya turnamen antar RT. Tidak peduli seberapa panas tensi di
lapangan, seberapa benjol jidat Pak RT, atau seberapa melar daster yang dipakai
bertanding, semuanya akan selesai dan terlupakan begitu gorengan hangat dan es
teh manis disajikan.
Nah, kalau di lingkungan tempat tinggal kalian bagaimana? Apakah turnamen
voli atau lomba agustusan antar RT-nya juga dipenuhi intrik politik dan drama
"smesh maut" ala emak-emak seperti Bu Tejo? Coba ceritakan kejadian
paling kocak yang pernah terjadi di lapangan voli kampung kalian pada kolom
komentar di bawah!