Tuesday, August 4, 2026

Misi Rahasia Menaklukkan Roda Dua: Ketika Gravitasi dan Aspal Menguji Iman Seorang Pemula

 

Misi Rahasia Menaklukkan Roda Dua: Ketika Gravitasi dan Aspal Menguji Iman Seorang Pemula

Ada satu momen krusial dalam fase pertumbuhan setiap manusia yang tingkat ketegangannya setara dengan ujian skripsi atau wawancara kerja. Momen itu adalah: hari pertama belajar naik sepeda roda dua.

Bagi sebagian orang, sepeda adalah simbol kebebasan. Namun bagi sekelompok orang lainnya—termasuk saya—sepeda adalah sebuah mesin penyiksa bertenaga otot yang diciptakan khusus untuk menguji seberapa kuat kulit lutut kita bergesekan dengan aspal.

Kisah legendaris ini terjadi beberapa tahun lalu, melibatkan saya (sebagai korban), tumpukan jerami, seekor ayam tetangga, dan seorang mentor bertangan besi bernama Mas joko—sepupu saya yang merasa dirinya setara dengan pelatih balap sepeda Tour de France.

Sore itu, angin berembus sepoi-sepoi. Mas Joko menuntun sebuah sepeda jengki tua warna biru yang karatnya sudah bisa dijadikan bahan baku suplemen zat besi.

"Ini sepeda legendaris," kata Mas Joko sambil menepuk jok sepeda yang sudah robek hingga busanya menyembul keluar. "Dulu Mas belajar pakai ini. Cuma jatuh tiga kali langsung bisa."

"Jatuhnya ke mana, Mas?" tanya saya sangsi.

"Ke tumpukan pasir. Nah, kalau kamu, Mas sudah siapkan rute yang lebih menantang," jawab Mas Joko sambil menunjuk jalanan kompleks yang menurun, di mana ujungnya langsung berbatasan dengan selokan kering dan kandang ayam milik Pak RT.

Saya menelan ludah. "Mas, kenapa enggak di lapangan bola aja yang empuk?"

"Ah, di lapangan itu tidak melatih mental! Naik sepeda itu soal keseimbangan batin dan keberanian. Sudah, cepetan naik!" perintahnya tegap.

Dengan kaki gemetar, saya menaiki sepeda jengki tersebut. Kedua tangan saya mencengkeram setang begitu erat sampai urat-urat tangan saya keluar. Mas Joko memegangi bagian belakang jok untuk menahan keseimbangan saya.

"Oke, sekarang mulai kayuh pelan-pelan. Pandangan harus lurus ke depan! Jangan lihat ke bawah, nanti pusing!" instruksi Mas Joko ala sersan militer.

"Mas... Mas masih pegangin kan?" tanya saya panik saat sepeda mulai berjalan oleng ke kanan dan ke kiri seperti orang mabuk perjalanan.

"Masih! Tenang aja, Mas jagain dari belakang. Terus kayuh! Lebih cepat!"

Saya mulai merasa percaya diri. Angin sore menerpa wajah saya. Wah, ternyata naik sepeda tidak seseram yang dibayangkan! Saya merasa seperti pahlawan di film-film yang sedang melaju menuju senja.

"Mas Joko hebat banget! Pegangannya stabil!" seru saya bangga.

Namun, karena penasaran, saya menengok sedikit ke belakang. Dan... jeng jeng! Mas Joko ternyata sudah berdiri sekitar lima puluh meter di belakang saya, melambaikan tangan dengan santai sambil memegang es teler di tangan kirinya.

"Semangat! Kamu bisa sendiri!" teriak Mas Joko dari kejauhan.

Seketika itu juga, hukum fisika langsung bekerja. Begitu otak saya menyadari bahwa tidak ada lagi yang memegangi jok belakang, sinyal kepanikan massal langsung dikirim ke seluruh tubuh. Setang sepeda yang tadinya lurus mendadak bergetar hebat seperti terkena gempa bumi skala 8 Richter.

"Mas Jokooo! Ini ngeremnya gimaanaaa?!" teriak saya histeris.

"Tinggal ditarik tuas di setang!" balas Mas Joko berteriak.

Saya panik. Alih-alih menarik tuas rem, tangan saya malah memutar bel sepeda berkali-kali.

Kring! Kring! Kring! Kring!

"Awas! Remnya enggak berfungsi! Yang berfungsi cuma belnya!" jerit saya pada dunia.

Di depan saya, maut sudah menanti dalam bentuk turunan jalan. Dan sialnya, di tengah jalan tersebut, ada seekor ayam jago milik Pak RT yang sedang asyik mematuk tanah dengan tenang, tidak tahu bahwa ada rudal kendali beroda dua sedang meluncur ke arahnya.

"Ayammm! Minggiiirr! Saya enggak mau masuk penjara karena nabrak kamu!"

Ayam itu menengok, berkokok panik, lalu terbang menyelamatkan diri ke atas pagar. Tapi saya? Saya tidak punya sayap. Di ujung turunan, pilihan saya hanya dua: belok kanan menabrak tembok rumah warga, atau lurus masuk ke dalam selokan yang untungnya sedang kering tapi dipenuhi daun-daun jati.

Saya memilih opsi ketiga secara tidak sengaja: menutup mata dan pasrah pada takdir.

Brakkk! Sreett! Gubraakk!

Sepeda jengki itu mendarat dengan sukses di dalam selokan. Tubuh saya terlempar ke tumpukan jerami di sebelah kandang ayam. Suasana mendadak hening, kecuali suara bel sepeda yang masih bergetar manja: kring...

Mas Joko berlari kencang menghampiri saya. Wajahnya yang tadinya santai berubah cemas. "Heh! Kamu enggak apa-apa? Ada yang patah?"

Saya menyembulkan kepala dari balik tumpukan jerami. Ada sehelai daun jati menempel di rambut saya, dan sebutir telur ayam (entah dari mana datangnya) sukses pecah di atas dahi saya.

Dengan muka datar, saya menatap Mas Joko. "Mas... tadi Mas bilang keseimbangan batin, ya?"

"I-iya..." jawab Mas Joko terbata-bata.

"Batin saya sekarang enggak seimbang, Mas. Malah agak sedikit terguncang," ucap saya ketus sambil membersihkan sisa telur di jidat.

Bukannya prihatin, Mas Joko malah memperhatikan posisi jatuhnya sepeda. "Tapi keren lho. Sepedanya pas banget masuk selokan, enggak lecet sama sekali. Memang sepeda legendaris!"

Hari itu, misi menaklukkan roda dua gagal total. Saya pulang dengan cara menuntun sepeda sambil berjalan pincang, ditonton oleh anak-anak kecil kompleks yang menatap saya dengan pandangan kasihan bercampur geli. Butuh waktu dua minggu lagi—dan tiga botol obat merah—sampai akhirnya saya benar-benar bisa menyeimbangkan diri di atas sepeda tanpa perlu drama masuk selokan lagi.

Hingga hari ini, setiap kali melihat anak kecil yang baru belajar naik sepeda dengan roda bantuan di kiri-kanannya, saya selalu membatin dalam hati: Kalian lemah, Dik. Belajar naik sepeda itu belum sah kalau jidat belum pernah ketiban telur ayam.

Catatan Redaksi CERCU: Belajar naik sepeda memang mengajarkan kita satu filosofi hidup yang mendalam: Untuk bisa tetap tegak dan berjalan maju, kita harus terus bergerak mengayuh. Tapi kalau di depan ada selokan, ya tolong direm, jangan pasrah juga!

Bagaimana dengan Anda, Pembaca CERCU? Berapa banyak luka robek di lutut atau berapa kali Anda masuk parit sampai akhirnya bisa lancar naik sepeda? Yuk, ceritakan pengalaman jatuh-bangun Anda yang paling kocak di kolom komentar!