Misi Rahasia Menaklukkan Roda Dua: Ketika Gravitasi dan Aspal Menguji Iman
Seorang Pemula
Ada satu momen krusial dalam fase pertumbuhan setiap
manusia yang tingkat ketegangannya setara dengan ujian skripsi atau wawancara
kerja. Momen itu adalah: hari pertama belajar naik sepeda roda dua.
Bagi sebagian orang, sepeda adalah simbol kebebasan.
Namun bagi sekelompok orang lainnya—termasuk saya—sepeda adalah sebuah mesin
penyiksa bertenaga otot yang diciptakan khusus untuk menguji seberapa kuat
kulit lutut kita bergesekan dengan aspal.
Kisah legendaris ini terjadi beberapa tahun lalu,
melibatkan saya (sebagai korban), tumpukan jerami, seekor ayam tetangga, dan
seorang mentor bertangan besi bernama Mas joko—sepupu saya yang merasa dirinya
setara dengan pelatih balap sepeda Tour de France.
Sore itu, angin berembus sepoi-sepoi. Mas Joko menuntun
sebuah sepeda jengki tua warna biru yang karatnya sudah bisa dijadikan bahan
baku suplemen zat besi.
"Ini sepeda legendaris," kata Mas Joko sambil
menepuk jok sepeda yang sudah robek hingga busanya menyembul keluar. "Dulu
Mas belajar pakai ini. Cuma jatuh tiga kali langsung bisa."
"Jatuhnya ke mana, Mas?" tanya saya sangsi.
"Ke tumpukan pasir. Nah, kalau kamu, Mas sudah
siapkan rute yang lebih menantang," jawab Mas Joko sambil menunjuk jalanan
kompleks yang menurun, di mana ujungnya langsung berbatasan dengan selokan
kering dan kandang ayam milik Pak RT.
Saya menelan ludah. "Mas, kenapa enggak di lapangan
bola aja yang empuk?"
"Ah, di lapangan itu tidak melatih mental! Naik
sepeda itu soal keseimbangan batin dan keberanian. Sudah, cepetan naik!"
perintahnya tegap.
Dengan kaki gemetar, saya menaiki sepeda jengki
tersebut. Kedua tangan saya mencengkeram setang begitu erat sampai urat-urat
tangan saya keluar. Mas Joko memegangi bagian belakang jok untuk menahan
keseimbangan saya.
"Oke, sekarang mulai kayuh pelan-pelan. Pandangan
harus lurus ke depan! Jangan lihat ke bawah, nanti pusing!" instruksi Mas
Joko ala sersan militer.
"Mas... Mas masih pegangin kan?" tanya saya
panik saat sepeda mulai berjalan oleng ke kanan dan ke kiri seperti orang mabuk
perjalanan.
"Masih! Tenang aja, Mas jagain dari belakang.
Terus kayuh! Lebih cepat!"
Saya mulai merasa percaya diri. Angin sore menerpa
wajah saya. Wah, ternyata naik sepeda tidak seseram yang dibayangkan! Saya
merasa seperti pahlawan di film-film yang sedang melaju menuju senja.
"Mas Joko hebat banget! Pegangannya stabil!"
seru saya bangga.
Namun, karena penasaran, saya menengok sedikit ke
belakang. Dan... jeng jeng! Mas Joko ternyata sudah berdiri sekitar lima puluh
meter di belakang saya, melambaikan tangan dengan santai sambil memegang es
teler di tangan kirinya.
"Semangat! Kamu bisa sendiri!" teriak Mas
Joko dari kejauhan.
Seketika itu juga, hukum fisika langsung bekerja.
Begitu otak saya menyadari bahwa tidak ada lagi yang memegangi jok belakang,
sinyal kepanikan massal langsung dikirim ke seluruh tubuh. Setang sepeda yang
tadinya lurus mendadak bergetar hebat seperti terkena gempa bumi skala 8
Richter.
"Mas Jokooo! Ini ngeremnya gimaanaaa?!"
teriak saya histeris.
"Tinggal ditarik tuas di setang!" balas Mas
Joko berteriak.
Saya panik. Alih-alih menarik tuas rem, tangan saya
malah memutar bel sepeda berkali-kali.
Kring!
Kring! Kring! Kring!
"Awas! Remnya enggak berfungsi! Yang berfungsi
cuma belnya!" jerit saya pada dunia.
Di depan saya, maut sudah menanti dalam bentuk turunan
jalan. Dan sialnya, di tengah jalan tersebut, ada seekor ayam jago milik Pak RT
yang sedang asyik mematuk tanah dengan tenang, tidak tahu bahwa ada rudal
kendali beroda dua sedang meluncur ke arahnya.
"Ayammm! Minggiiirr! Saya enggak mau masuk penjara
karena nabrak kamu!"
Ayam itu menengok, berkokok panik, lalu terbang
menyelamatkan diri ke atas pagar. Tapi saya? Saya tidak punya sayap. Di ujung
turunan, pilihan saya hanya dua: belok kanan menabrak tembok rumah warga, atau
lurus masuk ke dalam selokan yang untungnya sedang kering tapi dipenuhi
daun-daun jati.
Saya memilih opsi ketiga secara tidak sengaja: menutup
mata dan pasrah pada takdir.
Brakkk!
Sreett! Gubraakk!
Sepeda jengki itu mendarat dengan sukses di dalam
selokan. Tubuh saya terlempar ke tumpukan jerami di sebelah kandang ayam.
Suasana mendadak hening, kecuali suara bel sepeda yang masih bergetar manja: kring...
Mas Joko berlari kencang menghampiri saya. Wajahnya
yang tadinya santai berubah cemas. "Heh! Kamu enggak apa-apa? Ada yang
patah?"
Saya menyembulkan kepala dari balik tumpukan jerami.
Ada sehelai daun jati menempel di rambut saya, dan sebutir telur ayam (entah
dari mana datangnya) sukses pecah di atas dahi saya.
Dengan muka datar, saya menatap Mas Joko. "Mas...
tadi Mas bilang keseimbangan batin, ya?"
"I-iya..." jawab Mas Joko terbata-bata.
"Batin saya sekarang enggak seimbang, Mas. Malah
agak sedikit terguncang," ucap saya ketus sambil membersihkan sisa telur
di jidat.
Bukannya prihatin, Mas Joko malah memperhatikan posisi
jatuhnya sepeda. "Tapi keren lho. Sepedanya pas banget masuk selokan,
enggak lecet sama sekali. Memang sepeda legendaris!"
Hari itu, misi menaklukkan roda dua gagal total. Saya
pulang dengan cara menuntun sepeda sambil berjalan pincang, ditonton oleh
anak-anak kecil kompleks yang menatap saya dengan pandangan kasihan bercampur
geli. Butuh waktu dua minggu lagi—dan tiga botol obat merah—sampai akhirnya
saya benar-benar bisa menyeimbangkan diri di atas sepeda tanpa perlu drama
masuk selokan lagi.
Hingga hari ini, setiap kali melihat anak kecil yang
baru belajar naik sepeda dengan roda bantuan di kiri-kanannya, saya selalu
membatin dalam hati: Kalian
lemah, Dik. Belajar naik sepeda itu belum sah kalau jidat belum pernah ketiban
telur ayam.
Catatan
Redaksi CERCU: Belajar naik sepeda memang mengajarkan kita satu filosofi
hidup yang mendalam: Untuk bisa tetap tegak dan berjalan maju, kita harus terus
bergerak mengayuh. Tapi kalau di depan ada selokan, ya tolong direm, jangan
pasrah juga!
Bagaimana
dengan Anda, Pembaca CERCU? Berapa banyak luka robek di lutut atau berapa kali
Anda masuk parit sampai akhirnya bisa lancar naik sepeda? Yuk, ceritakan
pengalaman jatuh-bangun Anda yang paling kocak di kolom komentar!