Misteri Buku Catatan Berwarna Pink Milik Pak RT
Tokoh:
·
Bambang (35 tahun): Warga biasa yang
hidupnya penuh analisis, tapi sering kali salah analisis. Selalu penasaran dan
agak penakut.
·
Pak RT (50 tahun): Ketua RT yang
karismatik, santai, tapi menyimpan "aura misterius" yang bikin warga
segan.
·
Mpok Minah (45 tahun): Pemilik warung
kelontong, biang gosip kompleks, tipikal ibu-ibu yang tahu segalanya sebelum
hal itu terjadi.
Sore itu, angin berembus pelan di Kompleks Griya Selaras. Di teras rumah Pak
RT, suasana yang tadinya damai mendadak berubah tegang. Bukan karena ada
penggerebekan teroris, melainkan karena Bambang sedang berkeringat dingin
melihat sebuah benda di atas meja: sebuah buku catatan kecil berwarna pink
menyala dengan stiker Hello Kitty di pojoknya.
Bambang tahu betul apa isi buku itu. Itu adalah "Kitab Suci Utang
Warga". Dan nama Bambang, berada di urutan paling atas dengan nominal yang
cukup untuk membeli satu unit motor matic bekas.
"Minum dulu, Mbang. Jangan tegang begitu. Muka kamu sudah seperti orang
mau disuntik vaksin booster keempat," ujar Pak RT sambil menyodorkan
segelas kopi hitam.
Bambang memaksakan senyum. Matanya melirik ke arah buku pink tersebut.
"Anu, Pak RT... saya ke sini sebenarnya mau... ya, Bapak tahu sendirilah.
Ini sudah masuk bulan keenam sejak saya pinjam uang buat bayar DP mesin
cuci."
Pak RT menyeruput kopinya dengan tenang. "Oh, soal itu. Kenapa
memangnya?"
"Ya... Bapak kok tidak pernah menagih saya? Jangankan menagih, mengirim
WhatsApp sekadar P atau mengetuk pintu rumah saya malam-malam pun tidak pernah.
Jujur, Pak, hidup saya tidak tenang. Setiap ada motor berhenti di depan rumah,
saya langsung pura-pura pingsan di balik gorden," curhat Bambang, menyeka
keringat di dahinya.
Pak RT tertawa terkekeh-kekeh. "Halah, Mbang. Utang mah utang saja,
tidak usah dipikirkan sampai mau pingsan segala."
Di saat yang sama, Mpok Minah lewat memikul belanjaan. Mendengar kata
"utang", radar gosipnya langsung tegak berdiri. Ia langsung berbelok
dan duduk di kursi teras Pak RT tanpa diundang.
"Nah! Betul itu, Pak RT! Saya juga heran," sahut Mpok Minah tanpa
basa-basi. "Bukan cuma Bambang, Pak. Suami saya, si Jono, utang uang kas
RT dari zaman Pilpres periode lalu sampai sekarang belum lunas. Tapi Pak RT
anteng-anteng saja. Malah kemarin si Jono dipinjami cangkul lagi. Bapak ini
sebenarnya malaikat tanpa sayap, atau memang pelupa, sih?"
Pak RT hanya tersenyum misterius, membuat Bambang dan Mpok Minah saling
berpandangan. Keheningan sesaat itu terasa mencekam, mengalahkan atmosfer film
horor lokal.
"Kalian mau tahu kenapa saya tidak pernah menagih utang?" tanya
Pak RT, suaranya mendadak berat dan berwibawa.
Bambang mengangguk cepat. Mpok Minah bahkan sampai memajukan badannya hingga
hampir masuk ke dalam gelas kopi Pak RT.
"Sebab," Pak RT membuka buku pink itu perlahan, "menagih
utang itu merusak ekosistem kebahagiaan kompleks kita."
"Hah? Ekosistem kebahagiaan?" Bambang melongo.
"Iya," lanjut Pak RT. "Coba kamu pikir, Mbang. Kalau saya
tagih utangmu hari ini, kamu pasti stres. Kalau kamu stres, kamu bakal marahin
istrimu. Istrimu stres, dia tidak mau belanja di warung Mpok Minah. Warung Mpok
Minah sepi, Mpok Minah stres lalu marahin Pak Jono. Pak Jono stres, ronda malam
jadi tidak aman karena dia melamun terus. Akhirnya, kompleks kita kemalingan.
Siapa yang repot? Saya juga sebagai RT!"
Mpok Minah berkedip beberapa kali, mencoba mencerna logika Pak RT yang
melompat-lompat seperti kutu loncat. "Sebentar, Pak RT. Masuk akal sih...
tapi kan uang Bapak habis kalau dipinjam terus tapi tidak balik?"
Pak RT menggelengkan kepala sambil tersenyum bijak. "Minah, Minah. Kamu
pikir saya meminjamkan uang tanpa jaminan?"
Bambang langsung meraba kantong celananya. "Lho, perasaan waktu itu
saya cuma modal jabat tangan dan pasang muka melas, Pak. Saya tidak jaminkan
BPKB atau sertifikat tanah."
"Memang tidak," kata Pak RT sambil mengetuk-ngetuk buku pink itu.
"Tapi kalian lupa satu hal. Di kompleks ini, siapa yang memegang utang,
dialah yang memegang kendali sosial."
"Maksudnya, Pak?" tanya Bambang makin bingung.
"Begini," Pak RT membuka salah satu halaman. "Bulan lalu,
waktu got mampet dan butuh kerja bakti hari Minggu jam 6 pagi, siapa warga yang
datang paling pertama sambil bawa cangkul dan semangat 45?"
"Si... saya, Pak," jawab Bambang pelan.
"Nah! Kenapa kamu datang paling cepat dan kerjanya paling rajin sampai
got tetangga juga kamu bersihkan?"
"Ya... karena saya utang sama Pak RT. Saya merasa tidak enak kalau
tidak ikut," aku Bambang jujur.
"Betul!" Pak RT menjentikkan jarinya. "Lalu dua minggu lalu,
waktu ada rapat RT yang membahas iuran kebersihan naik, semua warga mau protes.
Tapi begitu saya tatap mata suamimu, Minah, si Jono langsung diam dan malah
bilang 'Saya setuju Pak RT, naik dua kali lipat juga tidak apa-apa'. Kenapa
coba?"
Mpok Minah menepuk jidatnya. "Ya ampun! Karena si Jono punya utang di
buku pink itu!"
"Tepat sekali!" Pak RT tertawa lepas. "Utang-utang kalian itu
adalah 'rem otomatis' agar warga tidak banyak protes dan selalu rajin kerja
bakti. Selama nama kalian ada di buku pink ini, kalian adalah warga teladan
yang paling penurut di seluruh kecamatan! Jadi, buat apa saya tagih? Kalau
kalian lunas, kalian bakal berani protes saya lagi pas rapat warga!"
Bambang tercengang. Ia baru sadar bahwa utang mesin cucinya telah
bertransformasi menjadi alat kendali politik tingkat rukun tetangga. Strategi
Pak RT jauh lebih genius daripada teori konspirasi mana pun yang pernah ia baca
di internet.
"Jadi... saya bebas tidak bayar nih, Pak?" tanya Bambang, mulai
memanfaatkan situasi.
Pak RT menutup buku pink-nya dengan suara 'plak' yang cukup keras, membuat
Bambang terlompat sedikit.
"Boleh saja tidak dibayar sekarang, Mbang. Kebetulan hari Minggu depan
ada agenda cat ulang balai warga dan pembersihan makam kuno di ujung jalan.
Saya butuh orang yang dedikasinya tinggi... setinggi nilai utangnya," ujar
Pak RT sambil mengedipkan sebelah mata.
Bambang langsung lemas. Ternyata, tidak ditagih utang rasanya jauh lebih
melelahkan secara fisik daripada membayar langsung dengan uang cash.
Mpok Minah pun berdiri sambil menenteng belanjanya kembali. "Aduh,
kalau begitu saya pulang dulu, Pak RT. Mau saya suruh si Jono langsung asah
parang buat hari Minggu depan. Daripada ditatap Pak RT pas rapat, mending dia
babat rumput makam sampai bersih!"
Sementara itu, Bambang hanya bisa menatap kopi hitamnya yang mulai dingin,
menyadari bahwa hidupnya kini telah digadaikan dalam sebuah buku catatan Hello
Kitty berwarna pink.
Pertanyaan untuk Pembaca: Bagaimana dengan di lingkungan rumah
kalian, nih? Apakah ada tetangga atau Pak RT yang punya taktik unik seperti ini
saat menghadapi warga yang berutang? Atau jangan-jangan, kalian sendiri yang
punya nama di dalam "buku pink" versi lingkungan kalian? Yuk,
ceritakan pengalaman lucu kalian di kolom komentar!